Isi Artikel
JAKARTA, – Tahun 2025 menjadi periode penting bagi perekonomian Indonesia.
Sepanjang satu tahun terakhir, berbagai dinamika terjadi, mulai dari kondisi makroekonomi.
Ada yang pergi, ada pula yang datang.
APBN berjalan di tengah tekanan penerimaan dan belanja, sementara kursi Menteri Keuangan mengalami pergantian penting.
Dari akhir masa jabatan Sri Mulyani Indrawati hingga munculnya Purbaya Yudhi Sadewa dengan gaya yang berbeda, dinamika fiskal sepanjang tahun ini penuh warna.
Akhir Era Sri Mulyani
Sepekan usai terjadi demonstrasi dan kerusuhan Agustus, Presiden Prabowo Subianto mendadak mengganti pucuk kepemimpinan Kementerian Keuangan, yaitu Sri Mulyani Indrawati dengan Purbaya Yudhi Sadewa pada 8 September 2025.
Sri Mulyani Indrawati mengakhiri masa jabatannya setelah hampir 14 tahun menjadi wajah kebijakan fiskal Indonesia dalam tiga periode pemerintahan berbeda.
Kepergiannya terjadi di tengah APBN 2025 yang sejak awal menghadapi tantangan berat, mulai dari target pajak ambisius hingga tekanan belanja yang tinggi.
Meskipun demikian, Sri Mulyani meninggalkan fondasi disiplin fiskal yang relatif terjaga, dengan defisit tetap dalam batas aman dan kredibilitas APBN yang diakui pasar.
Sepanjang paruh awal 2025, pemerintah masih mengandalkan kerangka fiskal yang dirancang di era Sri Mulyani, termasuk kehati-hatian dalam pembiayaan dan koordinasi erat dengan Bank Indonesia.
Namun, tekanan ekonomi domestik dan global membuat APBN bergerak dinamis dan memicu kebutuhan penyesuaian kebijakan.
Masuknya Purbaya
Nama Purbaya Yudhi Sadewa hadir membawa pendekatan yang berbeda.
Pria kelahiran Bogor pada 7 Juli 1964.
Ia menamatkan pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan gelar Teknik Elektro.
Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan berhasil meraih gelar MSc dan Ph.D di bidang Ilmu Ekonomi dari Purdue University.
Karier profesionalnya cukup beragam.
Purbaya sempat bekerja di sektor energi sebagai Field Engineer di Schlumberger Overseas SA (1989–1994), sebelum beralih ke dunia riset ekonomi.
Ia kemudian bergabung dengan Danareksa Research Institute sebagai Senior Economist (2000–2005).
Jabatannya terus berkembang, mulai dari Chief Economist Danareksa Research Institute (2005–2013), Direktur Utama PT Danareksa Securities (2006–2008), hingga anggota Dewan Direksi PT Danareksa (Persero) pada 2013–2015.
Ia tampil dengan gaya komunikasi yang lebih lugas dan terbuka, bahkan kerap muncul dengan gaya koboinya dalam berkomunikasi.
Sikap ini langsung menarik perhatian pasar dan publik, sekaligus memunculkan perdebatan di kalangan ekonom.
Berbeda dari pendekatan yang sangat teknokratis, Purbaya lebih sering berbicara dengan bahasa pasar.
Ia menekankan bahwa defisit adalah bagian dari desain kebijakan dan APBN masih memiliki daya tahan untuk menopang pertumbuhan ekonomi, meskipun ruang fiskal terbatas.
Gebrakan Awal dan Respons Pasar
Sejak awal menjabat pada 8 September 2025 di Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto, Purbaya mengambil sejumlah langkah yang dinilai tidak biasa, mulai menempatkan dana menganggur pemerintah di Bank Indonesia (BI) senilai Rp 200 triliun di lima bank milik negara.
Langkah-langkah ini membuatnya cepat dikenal publik dan memunculkan label “Menkeu idola baru”.
Pasar merespons beragam.
Sebagian pelaku usaha menilai pendekatan Purbaya lebih realistis dan komunikatif, sementara sebagian lain menuntut konsistensi disiplin fiskal agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Di tengah respons tersebut, pemerintah menegaskan bahwa arah kebijakan fiskal tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian.







