Isi Artikel
BANDUNG — Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kembali menjadi momentum krusial pergerakan masyarakat. Lonjakan mobilitas menuju tempat-tempat wisata berdampak langsung pada kinerja transportasi dan potensi kemacetan di sejumlah titik strategis Jawa Barat.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Dhani Gumelar, menyatakan bahwa berdasarkan hasil pemantauan hingga akhir Desember 2025, terjadi perubahan signifikan pola perjalanan masyarakat selama libur Nataru. Aktivitas perjalanan harian berbasis kerja menurun, sementara perjalanan menuju destinasi wisata meningkat tajam.
“Libur Nataru selalu identik dengan pergeseran mobilitas. Masyarakat tidak lagi berfokus pada rutinitas perkotaan, melainkan bergerak ke tempat wisata dan daerah tujuan liburan,” ujar Dhani.
Wisata Jadi Pusat Pergerakan
Menurut Dhani, kawasan wisata menjadi magnet utama selama libur Nataru. Jalur-jalur menuju Puncak Bogor, Lembang, Ciwidey, Pangandaran, Garut, hingga wilayah Kuningan mencatat lonjakan volume kendaraan, terutama pada akhir pekan dan menjelang malam pergantian tahun.
Ia menekankan bahwa fenomena ini berimplikasi langsung pada meningkatnya potensi kemacetan, khususnya di jalur wisata yang memiliki keterbatasan kapasitas jalan. Dominasi kendaraan pribadi, terutama roda dua dan roda empat, masih menjadi faktor utama kepadatan.
“Kami melihat konsentrasi pergerakan yang tinggi di kawasan wisata. Ini harus diantisipasi dengan pengaturan lalu lintas yang adaptif dan responsif,” tegasnya.
Transportasi Umum Alami Pergeseran
Dari sisi transportasi, Dishub Jabar mencatat moda angkutan yang melayani perjalanan antarwilayah dan jarak menengah mengalami peningkatan signifikan. Terminal Tipe B dan angkutan penyeberangan menunjukkan lonjakan penumpang, menandakan meningkatnya mobilitas lintas daerah di dalam provinsi.
Sebaliknya, layanan transportasi komuter yang biasa digunakan untuk aktivitas kerja harian justru mengalami penurunan. Hal ini, menurut Dhani, menjadi indikator kuat bahwa aktivitas perkantoran sudah banyak ditinggalkan selama libur Nataru.
“Penurunan komuter bukan sinyal negatif, justru menjadi penanda bahwa masyarakat sudah memasuki fase liburan. Tantangannya adalah memastikan transportasi wisata tetap aman dan lancar,” jelasnya.
Kemacetan Jadi Fokus Pengendalian
Dhani menegaskan bahwa kemacetan menjadi isu utama yang terus diawasi Dishub Jabar selama libur Nataru. Dengan potensi pergerakan masyarakat yang mencapai puluhan juta orang, setiap keterlambatan penanganan dapat berdampak luas.
Dishub Jabar, kata dia, mengandalkan kombinasi rekayasa lalu lintas, pembatasan kendaraan tertentu, serta pemantauan berbasis teknologi seperti CCTV dan traffic counting untuk membaca pola kepadatan secara real time.
“Kami tidak hanya mengurai kemacetan, tetapi berupaya mencegahnya sejak awal. Pengaturan arus, pengalihan jalur, hingga pembatasan kendaraan berat dilakukan demi menjaga kelancaran,” kata Dhani.
Kolaborasi dan Imbauan ke Masyarakat
Lebih lanjut, Dhani menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian lalu lintas libur Nataru. Dishub Jabar terus bersinergi dengan kepolisian, pemerintah daerah, serta pengelola kawasan wisata untuk memastikan arus transportasi tetap terkendali.
Ia juga mengimbau masyarakat agar merencanakan perjalanan dengan matang, memanfaatkan informasi lalu lintas terkini, serta mempertimbangkan penggunaan transportasi umum untuk mengurangi beban jalan.
“Libur Nataru adalah momen kebahagiaan. Dengan perencanaan perjalanan yang baik dan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, kemacetan bisa ditekan dan keselamatan tetap terjaga,” pungkasnya.
Dishub Jabar memastikan pengawasan dan pengendalian transportasi akan terus diperkuat hingga seluruh rangkaian libur Nataru berakhir, termasuk pada fase arus balik yang diprediksi kembali memicu kepadatan di jalur-jalur utama Jawa Barat.***







