, KUPANG – Hari ini sudah saatnya Tribunners membeli emas untuk investasi jangka panjang, karena harga emas dua hari terakhir belum bergeser.
Sempat turun dratis di tanggal 25 Desember 2025, harga emas Logam Mulia kembali melonjak di tanggal 27 dan 28 Desember 2025.
Namun sejak kemarin hingga hari ini harga emas turun tipis.
Artinya harga emas kemarin sampai siang ini masih stabil.
Dilansir dari Pegadaian Selasa (30/12/2025) harga emas Galeri24 belum bergeser dari nominal Rp 2.618.000 ukuran 1 gram.
Begitu juga harga emas UBS yang masih normal diangka dari Rp 2.673.000.
Sementara harga beli dan harga jual emas pun masih stabil, dimana harga beli Rp 25.300 dan harga jual Rp 24.410 per 0,01 gram.
Info harga emas Logam Mulia emas Galeri24, emas UBS mulai dari 0,5 gram hari ini Selasa (30/12/2025) siang yang dilansir dari laman Pegadaian :
*Harga emas Galeri 24
0.5 gram : Rp 1.373.000
1 gram : Rp 2.618.000
2 gram : Rp 5.157.000
5 gram : Rp 12.799.000
10 gram : Rp 25.528.000
25 gram : Rp 63.662.000
50 gram : Rp 127.225.000
100 gram : Rp 254.322.000
250 gram : Rp 634.245.000
500 gram : Rp 1.268.488.000
1.000 gram : Rp 2.536.976.000
*Harga Emas Antam
0.5 gram : –
1 gram : –
2 gram : –
5 gram : –
10 gram : –
25 gram : –
50 gram : –
100 gram : –
250 gram : –
500 gram : –
1000 gram : –
Harga Emas UBS
0.5 gram : Rp 1.445.000
1 gram : Rp 2.673.000
2 gram : Rp 5.304.000
5 gram : Rp 13.105.000
10 gram : Rp 26.072.000
25 gram : Rp 65.052.000
50 gram : Rp 129.837.000
100 gram : Rp 259.573.000
250 gram : Rp 648.739.000
500 gram : Rp 1.295.955.000
Penyebab Harga Emas Terus Naik
Emas selalu menjadi aset yang berharga sebagai investasi jangka panjang.
Namun belakangan ini harga emas terus menjulang.
Lantas apa yang menyebabkan harga emas terus naik?
Berikut 5 penyebah harga emas naik yang dilansir dari laman lakuemas :
1. Pengaruh Kondisi Ekonomi Global
Kondisi ekonomi dunia memiliki pengaruh besar terhadap harga emas. Saat ekonomi global melambat atau terjadi ketidakpastian, investor cenderung mencari aset yang dianggap “safe-haven” atau pelindung nilai — dan emas sering menjadi pilihan.
Sebaliknya, jika ekonomi kuat dan tumbuh cepat, investor sering beralih ke aset yang memberikan hasil tinggi (seperti saham atau obligasi) sehingga emas dapat mengalami fenomena koreksi.
2. Inflasi dan Nilai Uang
Ketika inflasi meningkat yakni harga barang dan jasa naik terus sehingga daya beli uang turun—maka banyak investor melihat emas sebagai alat pelindung nilai (hedge). Karena emas tidak menghasilkan bunga, tapi daya belinya relatif lebih tahan terhadap inflasi dibanding mata uang.
Sebaliknya, jika inflasi rendah atau stabil, daya tarik emas bisa berkurang karena nilai mata uang cenderung lebih stabil.
3. Suku Bunga dan Kebijakan Bank Sentral
Suku bunga adalah salah satu faktor kunci. Karena emas tidak menghasilkan bunga atau dividen, maka ketika suku bunga naik — artinya instrumen lain yang menghasilkan bunga menjadi lebih menarik — maka emas bisa berisiko terkoreksi.
Sebaliknya, suku bunga rendah membuat biaya oportunitas memegang emas (yaitu potensi imbal hasil yang dilepaskan dari aset berbunga) menjadi lebih kecil — sehingga emas menjadi lebih menarik.
4. Nilai Mata Uang (Khususnya Dolar AS)
Harga emas dan nilai mata uang, khususnya dolar AS, memiliki hubungan yang sering kali berlawanan. Bila dolar menguat, emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain ? permintaan dapat turun ? harga emas bisa melemah.
Sebaliknya, dolar melemah ? emas jadi relatif lebih murah bagi pembeli global ? permintaan naik ? harga emas bisa naik.
5. Ketidakpastian Politik, Konflik Geopolitik & Sentimen Pasar
Saat terjadi konflik, krisis politik, atau ketidakpastian tinggi (misalnya perang, sanksi ekonomi), investor sering mencari “safe-haven” ? emas dianggap pilihan. Demand naik ? harga emas naik.
Sentimen pasar dan psikologi investor juga memainkan peran: jika banyak yang percaya harga emas akan naik, mereka akan membeli ? hal ini bisa mendorong kenaikan. Dan sebaliknya saat kepercayaan turun. (*)
Ikuti Berita di GOOGLE NEWS







