Saat dosen prodi MPI FTK UIN Ar-Raniry bantu korban banjir di Pidie Jaya

Dr. MURNI, S.Pd.I., M.Pd., Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, melaporkan dari Meureudu, Pidie Jaya

Agenda saya pada hari Sabtu, 27 Desember 2025 adalah melaksanakan pengabdian masyarakat bagi korban banjir bandang di Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya (Pijay), dengan mengangkat tema “Membasuh Luka, Merajut Asa untuk Saudara Kami di Meureudu, Pidie Jaya”.

Bacaan Lainnya

Pada pagi Sabtu itu saya berangkat dari Punge Jurong, Banda Aceh, diantar oleh suami menuju Masjid Jamik Darussalam tepat pukul 07.00 WIB.

Sesampai saya di depan masjid jamik ternyata sudah ada tiga mobil yang tiba terlebih dahulu. Lalu saya langsung membantu mengemasi barang-barang logistik untuk dimasukkan ke dalam mobil.

Setelah seluruh dosen dan tenaga kependidikan (tendik) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (Prodi MPI FTK UIN) Ar-Raniry) Banda Aceh yang berjumlah 15 orang telah hadir semua, akhirnya pukul 07.30 WIB kami berangkat meninggalkan Masjid Jamik Darussalam menunju Meureudu.

Untuk menghemat waktu dan memangkas jarak, mobil kami memasuki jalan tol via Blang Bintang, Aceh Besar, menuju Tol Padang Tijie, Pidie.

Alhamdulillah, pukul 09.30 WIB kami tiba di SD Negeri Beunot, Meureudu. Rombongan kami terdiri atas Ketua Prodi, Dr Safriadi MPd, Sekretaris Prodi Drs Sufriadi MPd, PhD, dan para dosen Prodi MPI lainnya.

Begitu turun dari mobil, kami disambut dengan suka cita oleh Kepala Sekolah Negeri Beunot beserta dewan guru dan tendik sekolah tersebut.

Setelah berbincang dengan kepala sekolah dan guru, tibalah giliran Ketua Prodi MPI membagikan bantuan berupa sejumlah Al-Qur’an dan berbagai peralatan yang bisa digunakan untuk pembersihan dan perawatan sekolah. Bantuan ini diterima langsung oleh kepala sekolah.

Ketua Prodi MPI, Dr Safriadi saat memberikan bantuan mengatakan bahwa kehadiran tim dosen di sini adalah untuk memberikan secercah asa dalam membantu saudara-saudara yang terdampak musibah banjir bandang di Meureudu, Pijay.

“Donasi yang diberikan ini berasal dari dana sumbangan dosen Prodi MPI UIN Ar-Raniry. Kami berharap, bantuan ini dapat meringankan beban hidup masyarakat dalam menghadapi musibah banjir bandang ini,” ujar Safriadi, didampingi oleh Sekretaris Prodi, Sufriadi PhD dan Ketua PPMPI, Prof Dr Sri Rahmi MA.

Setelah berpamitan, kami berangkat menunju ke SD Negeri 2 Meureudu dengan agenda melakukan pembersihan sekolah tersebut. Setiba di sana kami diterima oleh kepala sekolah, guru, dan tendik.

Tidak berselang lama, kami segera membersihkan sekolah.

Setelah beberapa jam melakukan pembersihan, kami pun pamit.

Agenda selanjutnya, berkunjung ke beberapa gampong, seperti Gampong Blang Awe, Seunong, dan Beuriweuh untuk menyerahkan donasi berupa logistik.

Bencana banjir bandang kali ini sangatlah parah dan berdampak langsung kepada masyarakat, seperti banyaknya jatuh korban jiwa.

Selain itu, ribuan warga mengungsi, rumah dan fasilitas umum rusak, harta benda hilang, serta berdampak jangka panjang terhadap kesehatan, ekonomi lokal, maupun mobilitas masyarakat.

Sepanjang perjalanan dari Meureudu menuju Ulim, terilihat areal yang dulunya hamparan sawah hijau membentang luas, tapi kini sudah dipenuhi endapan lumpur banjir bandang, sehingga sulit untuk menentukan ukuran sawah masyarakat.

Ada juga padi yang dalam kondisi siap panen, sudah tertutup oleh endapan lumpur yang sangat tebal dan luas. Kondisi ini tentu berdampak pada ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.

Masih memprihatinkan

Selain itu, meski banjir bandang telah berlalu sebulan lebih, kondisi kehidupan masyarakat masih sangat memprihatinkan karena masih banyak lumpur menutupi bagian dalam dan luar rumah warga hingga hampir menyentuh atap rumah. Tantangan lainnya adalah di samping banjir susulan, pembersihan lumpur tebal yang cukup rumit masih berlangsung hingga saat ini.

Selain itu, hingga kini warga di Kabupaten Pijay mengalami krisis air bersih lantaran sumber air belum bisa diakses. Sumber air Pijay dari perusahaan daerah air minum (PDAM) belum berfungsi karena bagian hulunya hancur dihantam banjir bandang.

Beberapa gampong di Kecamatan Meureudu yang terdampak banjir besar kali ini, antara lain, Blang Awe, Manyang Cut, Manyang Lancok, Beurawang, Meunasah Lhok, Meunasah Pante Geulima, Meunasah Dayah Panuek, Masjid Tuha, Kota Meureudu, Dayah Kleng, dan Meunasah Balek.

Di Kecamatan Meurah Dua, gampong yang turut terdampak adalah Meunasah Bie, Meunasah Raya, Gampong Blang, Blang Cut, Dayah Husen, Dayah Kruet, Meunasah Mancang, Pante Beuren, Beringen, Lueng Mimba, Buangan, dan Tijin Daboh.

Sedangkan di Bandar Dua tercatat ada sembilan desa yang terdampak, yaitu Alue Ketapang, Babah Krueng, Drien Tujoh, Alue Sane, Pohroh, Blang Kuta, Jeulanga, Paya Pisang Klat, dan Alue Mee.

Selanjutnya, saya bersama teman-teman melewati jalan utama yang masih berlumpur yang belum begitu bersih untuk menuju ke Kota Meureudu. Terlihat masyarakat masih banyak yang tinggal di tenda pengungsian dengan kondisi masih sangat memprihatinkan.

Masjid-masjid dan meunasah juga masih sangat membutuhkan ambal sajadah panjang, mukena, dan Al-Qur’an agar masjid dan meunasah bisa berfungsi kembali secara normal.

Jika masjid, meunasah, dan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) sudah benar-benar bersih, masyarakat juga sudah aman tenang.

Para lansia juga sangat membutuhkan kelambu karena setelah banjir biasanya sangat banyak nyamuk.

Ibu hamil membutuhkan gizi berimbang, susu, obat-obatan, sedangkan anak bayi membutuhkan banyak popok, susu, roti, dan baju bayi agar tidak kedinginan saat berada di tempat pengungsian.

Masyarakat sangat berharap uluran tangan dari pemerintah pusat, daerah, kabupaten/kota, dan instansi terkait untuk sesegera mungkin membantu membersihkan rumah mereka ataupun direlokasi ke tempat hunian sementara (huntara), mengingat bulan suci Ramadhan sudah di depan mata.

Melalui saya, para pengungsi mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada donatur atas kepedulian dan bantuan yang telah diberikan.

Bantuan ini sangat berarti bagi mereka yang sedang berjuang untuk bangkit dari kehilangan segalanya.

Mereka juga berharap kepada pemerintah pusat, daerah, dan instansi terkait untuk terus memberikan dorongan moral dan materiel hingga kondisi para penyintas bencana benar-benar pulih.

Di sisi lain, pemenuhan untuk kebutuhan dasar, seperti makanan, tempat tinggal yang layak, kesehatan, dan pendidikan anak-anak mereka juga mendesak, demi menggapai masa depan yang lebih cerah. Mari, kita bantuk mereka untuk bangkit.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *