Isi Artikel
Ringkasan Berita:
- Selama seminggu ini, Jogja diprediksi akan diserbu hampir 10 juta orang dari luar daerah yang akan liburan Natal 2025 dan Tahun baru 2026.
- Untuk wisatawan dan warga Kota Yogyakarta yang hendak bepergian, ada baiknya menyimak situasi lalu lintas dan kemacetan di sejumlah titik vital di Jogja lewat CCTV.
- Ada CCTV yang ditempatkan di Malioboro, Jalan Kalurang, Jalan Parangtritis, sekitaran Buderan UGM, Hotel Melia Purosani, daerah Kotabaru, dan beberapa perempatan strategis lainnya.
– Selama seminggu ini, Jogja diprediksi akan diserbu hampir 10 juta orang dari luar daerah yang akan liburan Natal 2025 dan Tahun baru 2026.
Untuk wisatawan dan warga Kota Yogyakarta yang hendak bepergian, ada baiknya menyimak situasi lalu lintas dan kemacetan di sejumlah titik vital di Jogja lewat closed circuit television (CCTV).
Ada CCTV yang ditempatkan di Malioboro, Jalan Kalurang, Jalan Parangtritis, sekitaran Buderan UGM, Hotel Melia Purosani, daerah Kotabaru, dan beberapa perempatan strategis lainnya.
Berikut adalah daftar sejumlah CCTV atau kamera pemantau milik Pemkot Yogyakarta yang dapat diakses untuk memperoleh informasi kondisi beberapa ruas jalan utama.
Link CCTV Jogja
Malioboro jadi sorotan
Sementara itu, kawasan pedestrian Malioboro, Kota Yogyakarta, kembali menjadi sorotan di media sosial, di tengah keramaian wisatawan saat momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Salah satunya terkait unggahan wisatawan yang merasa terganggu dengan paparan dan kepulan asap dari para pedagang sate keliling atau asongan.
Keluhan mencuat setelah sebuah akun instagram mengungkap keresahannya saat sedang berbelanja di salah satu toko di kawasan jantung Kota Yogyakarta tersebut.
Dalam unggahan yang viral itu, wisatawan mengaku terganggu dengan kepulan asap sate yang masuk ke dalam area toko, yang berlokasi di depan Gedung DPRD DIY.
”Mau curhat sedikit saya udah beberapa hari di daerah Malioboro dan tadi saya berbelanja di salah satu toko di Malioboro tepatnya di depan masjid depan Kantor DPRD DIY gang Sosrowijayan, saya berbelanja di toko tersebut panas banget ditambah asap tukang sate yang tak beraturan,” katanya.
“Saya kasihan sama karyawan dan yang punya toko karna beberapa tidak jadi berbelanja karna asap sate tersebut bahkan ada karyawan sampe sakit mata bahkan menangis karna asap sate tersebut,” imbuh keterangan yang diunggah wisatawan itu.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Satpol PP Kota Yogyakarta, Octo Noor Arafat, menegaskan, bahwa pihaknya selama ini tidak tinggal diam.
Bukan tanpa alasan, personelnya sudah sering melakukan tindakan terhadap para pedagang sate yang melanggar aturan di kawasan tersebut.
”Dulu pernah melakukan (sanksi) tipiring (tindak pidana ringan), kemudian berulang kali kita melakukan penyitaan,” tandasnya, Minggu (28/12/2025).
Meski tindakan tegas berupa tipiring, hingga penyitaan barang dagangan sudah dilakukan, efek jera nyatanya tak pernah benar-benar muncul.
Kucing-kucingan
Kasatpol PP pun mengakui, bahwa para pedagang sering kali bermain ‘kucing-kucingan’ dengan para petugas yang berjaga di lapangan.
”Kami (personel) gabungan di Malioboro sudah rutin patroli, cuma mereka kucing-kucingan. Kita lewat mereka menghilang, lalu kalau kita di situ, muncul di tempat lain,” tandasnya.
Menurut pantauannya, mereka sering berpindah lokasi dalam waktu singkat untuk menghindari razia petugas di sepanjang kawasan Malioboro.
Ia mencontohkan, personel Satpol PP pernah mendapat laporan adanya pedagang sate di area Pasar Kembang, namun saat tiba di lokasi mereka sudah bergeser ke titik lain.
Guna mengantisipasi kejadian serupa dan menjaga kenyamanan bersama, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, untuk memperketat pengawasan.
Octo juga mengimbau kepada wisatawan maupun masyarakat yang merasa terganggu dengan aktivitas pedagang yang tidak tertib agar segera melapor ke petugas yang berjaga di lapangan.
”Di setiap tempat kan ada teman-teman UPT yang stand by menggunakan seragam khusus di beberapa pos. Ada pos-posnya, termasuk ada pos satpol PP yang ada di depan Hotel Mutiara,” tuturnya.
BPPTKG: Merapi aman dikunjungi
Di sisi lain, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta memastikan destinasi wisata di lereng Gunung Merapi aman dikunjungi saat momen libur natal dan tahun baru (Nataru).
Kepala BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santoso, mengatakan meski di tengah potensi cuaca ekstream saat ini, pihaknya memastikan destinasi wisata di kawasan Gunung Merapi Aman dikunjungi.
Akan tetapi wisatawan diimbau tetap mematuhi peraturan dan selalu mengupdate perkembangan cuaca dan aktivitas Gunung Merapi.
“Kami sampaikan kepada masyarakat bahwa kondisinya masih aman. Terutama musim liburan ini,” kata Agus, Minggu (28/12/2025).
Agus menyebut Gunung Merapi saat ini tengah mengalami erupsi berkepanjangan sejak 2021.
Intensitas hujan yang tinggi bisa memunculkan potensi lahar dingin, terutama di sisi barat daya.
Agus mengimbau masyarakat tak perlu cemas berlebihan.
Sebab, BPPTKG Yogyakarta memastikan kecil kemungkinan lahar dingin akan berdampak hingga ke pemukiman.
“Dari perhitungan kami, dari pemodelan aliran lahar, dari situasi geomorfologi di sana yang aktual, maka kami bisa menyampaikan bahwa potensi untuk aliran lahar itu akan membahayakan pemukiman itu sangat kecil karena daya tampung dari sungainya masih cukup memadai,” jelas Agus.
Puncak musim hujan
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Agustinus Ruruh Haryata, memprediksikan puncak musim hujan dimulai Januari hingga Februari 2026.
Dia juga menyampaikan tidak ada pergerakan siklon di wilayah DIY. Sehingga kecil kemungkinannya terjadi cuaca ekstrem di DIY.
Ruruh mengatakan saat ini bibit siklon ada di Selatan Bali dan Nusa Tenggara Timur namun terpantau sudah mulai menjauh.
Meski begitu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada.
Sebab, bibit siklon yang terjadi akan meningkatkan suhu di Samudera Selatan yang berakibat tingginya gelombng ombak.
“Walaupun tidak terbentuk siklon, itu memiliki dampak kemudian meningkatkan curah hujan, tetapi tidak se-ekstrem seperti yang terjadi pada saat Siklon Senyar,” ujar Ruruh.
Ruruh justru mewaspadai ancaman pohon tumbang yang kerap memakan korban saat hujan disertai angin kencang.
Masyarakat diajak untuk melakukan identifikasi lingkungan rumahnya secara mandiri.
“Kami mengimbau kepada masyarakat yang tinggalnya itu di daerah lereng dengan sudut kemiringan cukup tinggi, sekali lagi melakukan identifikasi secara mandiri. Kalau di sekitarnya sudah mulai ada rekahan, itu diinformasikan ke relawan atau ke BPBD,” jelasnya.







