Catatan Pengawas Sekolah (35) Senin, 15-04-2019
Pukul 05.30 wita istri saya sudah sibuk di dapur. Pagi ini ia akan memasak nasi goreng. Saya hanya mengiyakan saat istri memberi tahu bahwa sarapan pagi ini makan nasi goreng. Saya segera menuangkan air mentah dari gallon ke cerek. Untung ada dua mata kompor sehingga bisa memasak dua tempat sekaligus. Satu mata untuk memasak nasi goreng dan satu mata untuk merebus air.
Sambil menunggu air mendidih dan nasi goreng siap dihidangkan, saya menyiapkan segala sesuatu untuk kerja. Sepatu, kaos kami, laptop dan kabelnya, colokan untuk charger HP, pakaian dinas hari Senin yang ditempeli papan nama, name tag, lambing korpri, dan pulpen untuk dimasukkan saku sebelah kiri baju. Hal-hal kecil jika ada yang terlupa akan membuat repot di kantor.
Pagi ini saya menikmati nasi goreng diikuti minum secangkir teh hangat. Pagi ini saya tidak berminat minum kopi. Sejak pukul dua kurang seperempat tadi, perut saya terasa mulas. Belum juga mau buang air besar. Rasa mual melanda. Namun, hal itu tidak saya sampaikan kepada istri saya. Saya mencoba menahan rasa sakit itu.
Untung sebelum mandi saya bisa mengeluarkan feses sehingga rasa sakit pada bagian perut agak berkurang. Kelemahan saya memang sakit pada organ perut. Sudah berkali-kali saya merasakan hal itu. Beberapa kali pula saya harus beristirahat beberapa hari gara-gara sakit perut.
Alhamdulillah hari ini tidak separah sebelum-sebelumnya. Saya minum air putih hangat agak banyak. Selain itu, saya berusaha tenang-tenang saja. Tidak mengeluh. Tidak menganggap sakit perut itu sesuatu yang harus dibuat heboh. Saya menjalankan aktivitas selanjutnya seperti saat hari kerja sebelumnya.
Setelah berpamitan dengan istri, saya menaiki sepeda motor dengan tenang. Tidak terburu-buru. Waktu sekitar lima belas menit begitu saya nikmati selama perjalanan. APK (alat peraga kampanye) sudah tidak saya lihat lagi di sudut-sudut jalan atau di tepi jalan yang dekat pemukiman penduduk. Masa tenang sebelum pemilu 17 April 2019 berlangsung tiga, sejak 14 hingga 16 April 2019. Lalu lalang pengendara sepeda motor pagi ini saya rasakan lebih padat. Padahal belum pukul tujuh pagi. Para polisi saya lihat sedang bersiap-siap untuk apel di halaman Fina Mart sebelum menjalanakan tugas.
Pukul 06.55 wita saya sudah berada di ruang pengawas sebelah kiri lorong. Saya langsung menyalakan kipas angin setelah colokan listrik saya hubungkan dengan stop kontak. Selanjutnya saya mencari stempel disdikpora untuk digunakan presensi. Saya harus menyetempel sendiri dalam daftar kehadiran.
Mendekati pukul setengah delapan saya sudah berada di ruang pengawas sebelah kanan lorong. Ruangan ber-AC cukup membuat ketenangan. Pintu sengaja tidak saya tutup. Beberapa menit kemudian muncul penilik sekolah, Pak Surian.
Saya langsung bercerita tentang anak saya, Adib, yang kemarin dikunjungi Arifin. Perbincangan terus mengalir lancar. Anak kedua Pak Surian akan masuk sekolah di SMP Ihsanul Fikri Pabelan, Magelang, satu lokasi dengan sekolah Adib.
Saat bel tanda apel bordering, kami segera turun ke halaman disdikpora. Para peserta apel pagi cukup banyak. Selain kadisdikpora, saya melihat ada sekretaris disdikpora, kabid dikdas, beberapa kasi dan staf. Saya melihat ada Pak Ronald yang bertugas di ruang Program dan Perencanaan, Pak Thoha yang bertugas di ruang keuangan.
Pengawas SD dan SMP juga terlihat cukup banyak. Untuk pengawas SMP yang saya lihat adalah Pak Anas Baenana, Pak Habel Hewi, dan Bu Sri Sutjiati. Beberapa pengawas SD berbaris di deretan kedua, di antaranya : Pak Mardi, Pak H. Yani, Bu Hj. S.Khasanah, Pak Sarmidi, Pak Jumio, Bu Paulina Sandri, dan beberapa pengawas lain yang tidak sempat saya catat di sini.
Banyak hal disampaikan oleh kadisdikpora dalam sambutan apel pagi yang dipimpin oleh Muhammad Makmur Hasan dari bagian Program dan Perencanaan. Mas Makmur satu ruang dengan Pak Ronald. Perihal kehadiran BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) di kabupaten kami disampaikan. Para petugas dari BPK akan berada di PPU hingga akhir bulan April 2019.
Hal laporan keuangan banyak dibahas dan diulas. Kami para peserta apel sudah hapal betul. Selain itu, pak kadisdikpora juga menyampaikan perihal pemilu 17 April 2019. Kami diminta tidak boleh golput. Di samping itu, pada masa tenang sebaiknya tidak perlu menanggapi caleg-caleg yang masih melakukan sosialisasi atau kampanye terselubung.
Usai apel, saya kembali ruang pengawas yang ber-AC. Laptop saya masih dalam kondisi aktif. Saat pergi apel tadi laptop tidak saya matikan dulu. Ada dua penilik sekolah yang bersama kami, Pak Agus dan pak Surian. Tidak lama kemudian datang pak Mardi.
Mobilitas para penilik dan pengawas cukup tinggi. Baru sebentar duduk, Pak Agus dan Pak Surian minta diri untuk mengunjungi sekolah binaan mereka. Saya masih duduk dan setia dengan laptop. Belum ada rencana berkunjung ke sekolah saat ini.
Pulang kerja saya langsung merebus air. Rasa sakit di perut belum saya rasakan. Sebelum pulang, saya sempat singgah di Fina Mart. Sabun cuci, pewangi cucian, sikat gigi, dan beberapa bungkus roti saya beli. Tiga lembar uang saya sodorkan. Satu lembar uang seratus ribu, satu lembar uang lima puluh ribu, dan satu lembar uang dua puluh ribu. Oleh kasir toko saya dberi uang kembalian tiga lembar: dua lembar uang dua ribu dan satu lembar uang seribu rupiah.
Air mendidih. Saya segera membuat minuman teh hangat. Seperti waktu-waktu sebelumnya jika saya sakit perut, saya harus sering-sering minum teh hangat. Usai menikmati teh hangat dan sepotong roti tawar yang diolesi selai stroberi, saya mencoba berbaring. Dengan posisi tubuh relaks, saya berharap rasa sakit perut bisa segera sirna.
Makan nasi di siang hari saya lakukan setelah istri usai membuat sayur santan dan menggoreng lauk. Nasi putih saya ambil sendiri dari magic jar kemudian sayur santan saya ambil dari panci di atas kompor yang sudah dimatikan nyala apinya. Lauk ayam goreng saya ambil sepotong dari lemari kaca di dekat pintu dapur.
Saya menikmati nasi putih dengan sayur santan dan lauk ayam goreng sangat hati-hati. Saya tidak mau terburu-buru makan. Rasa nyeri di sebagian perut harus saya tahan. Sayur santan merupakan salah satu sayur kesukaan saya. Apa pun bahan dalam sayur santan saya tidak peduli. Siang ini istri saya memasukkan tahu yang dipotong kecil-kecil dan sayur berwarna putih.
Siang hari Senin tanggal lima belas April 2019 mentari bersinar cukup panas. Tidak seperti hari Ahad kemarin, hari ini pancaran sinar begitu menyengat. Kipas angin menyala dengan aktif tetapi rasa gerah masih saya rasakan. Ya. Musim yang tidak menentu membuat cuaca berubah-ubah.
Di sela-sela menjalankan aktivitas saya selalu menggunakan pesan WA untuk berkomunikasi. Tadi pagi saya sempat bertanya kepada kepsek SMP Muhammadiyah 2 PPU di Babulu, apakah ada pengawas SMP yang berkunjung di sana. Seusai saya makan siang barulah pertanyaan lewat WA dijawab. Ada foto-foto dikirimkan. Pak gamaruddin menjawab bahwa ada Pak Mukafik memeriksa perangkat pembelajaran di sekolah swasta itu.
(Bersambung)







