Menghidupi istri dan dua anak, Marshel Widianto beber beratnya jalani Tahun 2025 imbas sepi job.
Mengawali karier sebagai komika, Marshel Widianto sudah melalui fase pasang-surut selama berkecimpung di panggung hiburan tanah air.
Sikap dan keputusan suami Cesen itu kerap jadi kontroversi bahkan menuai hujatan.
Sebut saja saat Ia mencoba peruntungan di ranah politik 2024 lalu.
Selain bergabung jadi anggota partai, Marshel juga nyaris mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah di ajang pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024.
Ayah dua anak itu juga dikenal memiliki kebiasaan buruk soal kedisiplinan waktu.
Menjelang akhir Tahun 2025, Marshel Widianto buka suara soal situasi yang dialaminya setahun terakhir.
Ia mengaku sempat melalui fase sepi job sejak awal 2025, situasi itu berlangsung sampai sembilan bulan.
Sepanjang momen itu, Marshel mengaku berupaya keras dan memutar otak demi tetap bisa menghidupi istri dan dua anaknya.
“Jadi itu sih, maksudnya di 2025 dari awal tahun sampai bulan ke-9 (September) benar-benar berjuang-nya benar-benar bertahan hidup banget gitu,” ujar Marshel di kawasan Mampang, Jakarta Selatan dikutip dari Grid.id, Minggu (28/12/2025).
Ia menyebut kebangkitan ini datang setelah melakukan perubahan besar dalam dirinya, terutama soal sikap dan kedisiplinan dalam bekerja.
“Dikasih kesempatan lagi, dikasih kepercayaan lagi. Dan itu enggak terlepas dari perubahan yang memang bukan cuman berubah untuk enggak datang telat, karena tidak banyak janji, tapi perubahannya ya dari dalam dulu gitu, dari rumah,” jelasnya.
Selain itu, menurut Marshel, suasana keluarga yang harmonis ikut membawa rezeki kembali. Ia mengapresiasi Cesen karena telah menjadi pasangan yang menyenangkan.
“Ya istri yang menyenangkan, keluarga yang menyenangkan, sampai akhirnya rezeki itu bisa datang lagi,” katanya.
Kini, Marshel telah bangkit dari keterpurukan. Cesen pun membenarkan kesibukan sang suami yang kini penuh hingga Februari 2026.
“Jadwal dia sudah penuh sampai Februari apa ya?” ucap Cesen.
“Iya, Puji Tuhan ya Alhamdulillah, sumpah. Dar der dor sungguh!” timpal Marshel.
Kendati sibuk, pria 29 tahun ini tetap menyempatkan waktu untuk keluarga. Anak-anaknya pun sudah memahami pekerjaan sang ayah.
“Mereka selalu bilang ‘Papa kerja, Papa kerja, Papa kerja’. Sudah begitu saja,” kata Cesen.
Tak hanya itu, Marshel juga menyiapkan rencana besar untuk kembali ke panggung stand up comedy tahun depan.
“Lagi nge-rencana biar bisa ada pertunjukan spesial nanti tahun depan. Biar bisa balik lagi ke berdiri (Stand Up), bikin pertunjukan spesial, bikin wisata nanti. Ya mudah-mudahan bisa lancar semuanya,” pungkasnya.
Dituding Jadi Buzzer Pemerintah
Nama Marshel Widianto sempat jadi bulan-bulanan di media sosial.
Ia dihujat habis-habisan usai dituding jadi buzzer pemerintah di tengah gelombang aksi unjuk rasa pada akhir Agustus 2025.
Gelombang aksi unjuk rasa saat itu dipicu kematian seorang drive ojek online, Affan Kurniawan yang terlindas kendaraan taktis Brimob di tengah unjuk rasa di kawasan Kompleks Kantor DPR RI.
Di tengah kabar duka itu, publik dikejutkan dengan dugaan adanya tawaran fantastis sebesar Rp150 juta untuk sekali unggah konten di media sosial sebagai bagian dari kampanye ajakan damai.
Saat itu, Marshel Widianto dituding jadi buzzer pemerintah dan menerima bayaran Rp150 juta.
Hal itu berawal dari Marshel Widianto sempat mengunggah sebuah video lawas yang memperlihatkan suasana damai antara aparat dan demonstran. Namun, alih-alih menyejukkan, video tersebut justru menuai kritik keras dari warganet yang menilai unggahan itu tidak sensitif terhadap kondisi terkini.
Tak lama setelah menuai kritik keras, video itu akhirnya dihapus dari akun Instagram pribadinya.
Lewat unggahan klarifikasi di akun @marshel_widianto, komedian yang juga suami dari Yansen Indiani ini menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
“Teman-teman, saya secara pribadi meminta maaf atas video sebelumnya di IG saya,” tulis Marshel.
Ia mengakui khilaf karena tidak berpikir matang sebelum mempublikasikan video itu, bahkan menyebut tindakannya sebagai kebodohan. Ayah dua anak ini juga menegaskan tidak pernah menerima bayaran sepeser pun, sekaligus memastikan bahwa video tersebut sudah ia hapus.
“Saya salah karena tidak berpikir panjang sebelum menaikan video itu, memang bodoh saya. Saya sama sekali tidak dibayar dan video tersebut pun sudah saya take down. Memang bodoh saya dan tolol. Silahkan maki saya sepuasnya, saya terima konsekuensi atas kebodohan saya,” tambahnya.
Meski sudah meminta maaf dan membantah isu pembayaran, banyak warganet yang masih meragukan pengakuannya.
“Antara kena tipu 150jt nya gagal caer jadi nyesel atau emg nyesel beneran ni cel? Hahaha,” timpal akun @sals.bil
“Lu kenapa dari dulu begini mulu dah bang? Abis bikin kesalahan, update pasrah buat di maki-maki,” sahut akun @echatyanna.
“Paling lu takedown karna temen temen artis ada yg negur lu kan, mamam tu duit darah!,” komentar akun @mynamejelly_.
Sebelumnya, konten kreator Jerome Polin mengungkap adanya tawaran fantastis senilai Rp150 juta untuk sekali unggah konten kampanye ajakan damai di akun Instagram pribadinya.
Sosok yang dikenal dengan gaya bicara lugas sekaligus edukatif itu menolak tawaran tersebut dan menyinggung pentingnya keterbukaan terkait penggunaan dana negara.
“Dear agency dan KOL, aku mohon untuk kali ini, jangan korbanin rakyat buat kepentingan kalian sendiri,” tegas Jerome dilansir dari akun Instagram miliknya, Jumat (29/8/2025).
Jerome Polin Sijabat menilai nilai Rp150 juta untuk satu postingan sangat tidak masuk akal, terlebih bila dananya bersumber dari anggaran publik. Ia menekankan bahwa uang rakyat seharusnya digunakan untuk kebutuhan yang lebih prioritas, bukan untuk sekadar pencitraan.
Dalam unggahan lain, Jerome mencontohkan bahwa bila dana sebesar itu dialihkan untuk kesejahteraan tenaga pendidik, maka banyak guru bisa merasakan manfaatnya.
“Uang rakyat dipake buat bayar buzzer per orang Rp 150 juta, kalau dipake buat naikin gaji guru per orang Rp 10 juta, udah bisa bikin 15 guru hidup sejahtera selama sebulan,” imbuh pria berusia 27 tahun ini.
Pernyataannya ini mendapat sambutan luas dari warganet, yang menilai kritik Jerome mewakili suara keresahan masyarakat. Ia mengingatkan publik agar tetap waspada dan mengawal transparansi anggaran negara. Menurutnya, ajakan damai seharusnya lahir dari kesadaran rakyat, bukan dikonstruksi melalui kampanye berbayar.
“Semua lagi susah, kita berjuang bersama, yah? Tolong,” tambah Jerome.
(/Grid.id)







