Kesenjangan pola mengajar dengan standar asesmen pemicu nilai TKA siswa Lampung jeblok

, Bandar LampungHasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 siswa kelas 12 di Lampung yang telah dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi.

Pasalnya, hasil rata-rata TKA di Lampung menunjukkan nilai hanya berkisar 37,81. Sementara Daerah Istimewa Yogyakarta yang memimpin nilai rata-rata nasional dengan 46,33.

Bacaan Lainnya

Pengamat Pendidikan sekaligus Guru Besar FKIP Universitas Lampung (Unila), Prof. Undang Rosidin, menilai rendahnya skor tersebut menjadi sinyal kuat bahwa ada kesenjangan besar antara pola pengajaran di kelas dengan standar asesmen nasional.

Terlebih, sistem asesmen nasional kini mulai menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS).

Adapun HOTS sendiri merupakan kemampuan berpikir secara mendalam dan luas, melampaui sekadar mengingat fakta (recall) atau mengulang informasi, mencakup kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif untuk memecahkan masalah kompleks, menganalisis, mengevaluasi, serta menciptakan ide baru

Prof. Undang mengungkapkan selama ini siswa di Lampung terjebak dalam pola pembelajaran yang sifatnya hafalan, sehingga saat dihadapkan pada soal yang menguji analisis, logika, dan pemahaman konsep inti, banyak dari mereka yang terkejut. 

Ia melihat ada perbedaan kontras dengan kesiapan guru di daerah lain, seperti Yogyakarta, yang sudah jauh lebih matang dalam menyiapkan instrumen pembelajaran yang holistik dan kontekstual.

“Sebenarnya, hasil tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pendidikan secara utuh di Lampung. Pelaksanaan tes ini masih baru, di tahap awal, sehingga mungkin ada faktor kejutan bagi para siswa. Selain itu, tes tersebut sifatnya sampel. Namun, kondisi ini tetap harus diwaspadai,” ujar Undang Rosidin, Minggu (28/12/2025)

Kendati begitu, ia menyoroti peran tenaga pendidik yang dinilai masih terlalu terpaku pada buku teks dan jarang menyentuh aspek penalaran yang lebih dalam. 

Sebagian besar guru dinilai masih nyaman berada di level penilaian dasar seperti ingatan dan pemahaman sederhana, sementara soal TKA menuntut kemampuan sintesis hingga kreasi.

“Guru-guru kita masih terlalu tekstual dalam mengajar. Padahal, soal TKA itu sifatnya kontekstual dan menuntut siswa untuk menganalisis kondisi faktual dan aktual di lapangan. Karena tidak terbiasa, siswa jadi bingung saat menghadapi soal tersebut,” tegasnya.

Lebih lanjut, Undang menginginkan jika kualitas nilai TKA siswa Lampung tidak segera ditingkatkan, maka akses menuju jenjang perguruan tinggi favorit akan terancam. 

Ia mengkhawatirkan kursi-kursi di kampus ternama lokal justru akan didominasi oleh siswa asal luar daerah yang memiliki skor akademik lebih bersaing secara nasional.

“Risikonya besar. TKA ini akan menjadi tiket atau syarat masuk ke jenjang perguruan tinggi dengan klasifikasi skor tertentu untuk program studi favorit.

Jika nilai TKA siswa kita rendah, maka kursi di perguruan tinggi favorit di daerah kita sendiri justru akan diisi oleh siswa dari daerah lain,” tambahnya dengan nada peringatan.

Sebagai langkah perbaikan, Undang mendesak agar pemerintah daerah segera melakukan langkah konkret melalui penguatan kompetensi guru. 

Menurutnya, guru tidak boleh ikut kaget saat melihat soal standar nasional, melainkan harus menjadi garda terdepan dalam merancang soal-soal latihan yang melatih logika verbal, numerik, dan spasial siswa secara rutin di kelas.

Capaian has TKA di Lampung untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia tercatat di angka 55,39, diikuti matematika 35,29, dan Bahasa Inggris yang masih sangat rendah di angka 22,74. 

Secara nasional, potret pendidikan memang terlihat masih jauh dari memuaskan, mengingat belum ada satu pun provinsi yang mampu menembus rerata nilai 60,00 dalam skala 100 pada TKA tahun ini.

( / Hurri Agusto )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *