Kisah Ibu Zhee yang Menggemparkan, Terbongkar Kebenaran Sekolah, Putrinya Meninggal Usai Kegiatan Pramuka

Ringkasan Berita:

  • Aisyah Aqila Fazila Yusyah (12) meninggal pada hari berikutnya setelah mengalami kecelakaan saat kegiatan Pramuka di Pringsewu, Lampung.
  • Korban diduga terjatuh dari tebing saat mencari tanaman obat bersama rombongannya tanpa pengawasan guru di lokasi tersebut.
  • Nia mengatakan pihak sekolah awalnya tidak jujur dan hanya menyebut anaknya “masuk angin/ketiduran”, padahal catatan medis menunjukkan dugaan terjadinya perdarahan otak.

https://mediahariini.com, Pringsewu– Seorang siswi kelas VI di sebuah sekolah di Pringsewu, Lampung, Aisyah Aqila Fazila Yusyah (12), meninggal pada 23 November 2025, sehari setelah mengalami kecelakaan saat kegiatan Pramuka di luar kelas.

Bacaan Lainnya

Ibu kandung siswi yang akrab dipanggil Zhee, Nia, mengatakan bahwa pada 22 November 2025, putrinya mengikuti kegiatan pencarian tanaman obat saat waktu luang di kelas.

Kegiatan tersebut diarahkan oleh guru pembina Pramuka. Setiap kelompok terdiri dari 8–9 siswa dan diberi petunjuk untuk berjalan sekitar satu kilometer dari sekolah menuju sebuah bukit.

Nia mengatakan, putrinya pernah mengalami radang otak saat kecil, sehingga sejak kelas IV ia telah meminta pihak sekolah untuk memantau secara ketat aktivitas fisik Zhee dan tidak mengikutsertakannya dalam kegiatan Pramuka.

“Saya memiliki alasan khusus mengapa anak saya tidak boleh bergabung dengan Pramuka,” kata Nia kepadahttps://mediahariini.com, Jumat (12/12/2025).

“Zhee juga anak yang jarang keluar rumah, terlebih lagi ke alam,” tambahnya.

Kemudian, ketika berada di puncak bukit, Zhee dan rekan satu timnya disinyalir terjatuh dari tebing.

Korban terjatuh dan membentur fondasi batu bata yang berada di bawah tebing.

Warga yang tinggal di dekat lokasi memberikan pertolongan awal.

“Zhee masih mampu berdiri. Bajunya yang berwarna coklat kotor hingga harus dicuci oleh warga. Ikat pinggangnya rusak hingga dibuka menggunakan obeng,” jelas Nia.

Siswa-siswa dalam kelompok berupaya mencari guru pembimbing, tetapi menurut keterangan anak-anak, guru tidak hadir di tempat kejadian.

Korban selanjutnya dibawa ke klinik. Namun Nia, yang saat itu berada di Surabaya, baru mengetahui keadaan anaknya setelah menghubungi keluarga yang menemani di klinik.

Ia menerima informasi awal bahwa Zhee hanya mengalami sakit biasa dan kelelahan akibat tidak makan pagi.

Di sinilah Nia mengakui mulai mencurigai dan berusaha mengetahui sendiri apa yang terjadi.

Saya berada di Surabaya, tetapi yang mengungkap semuanya justru saya. Karena saya dekat dengan teman-teman anak saya yang satu tim.

“Saya mencari nomor HP-nya, saya mencari informasi, apa sebenarnya kejadian yang terjadi? Ternyata ia jatuh dari tebing,” katanya.

Nia menyampaikan bahwa ia pernah mengalami kesulitan meyakinkan anggota keluarganya di rumah bahwa Zhee jatuh dari ketinggian.

Karena guru itu, menurut masyarakat kecil, selalu benar. Sementara guru itu yang membawa anak saya ke klinik.

Ia mengatakan kepada ibunya, “Zhee hanya terpeleset biasa saja. Karena tidak makan pagi, masuk angin.” Betapa ringannya? Kebiasaan mereka sangat luar biasa,” kata Nia.

Saat senja tiba, Nia mengumpulkan informasi dari teman-teman Zhee dan mengetahui bahwa putrinya tidak hanya terjatuh secara ringan.

“Pada saat saya menghubungi kepala sekolah dan wali kelas, mereka tetap menyatakan Zhee dalam keadaan baik-baik saja, hanya mengalami luka di kaki dan lutut,” katanya.

Esok harinya, Nia pergi ke klinik di mana Zhee pertama kali diperiksa.

Berdasarkan catatan medis yang ditunjukkan, dokter menemukan adanya nyeri di area perut bagian atas serta kemungkinan terjadinya pendarahan otak, dan menyarankan agar korban segera dirujuk untuk melakukan pemindaian CT.

Nia mengatakan informasi itu tidak diberikan kepadanya oleh pihak sekolah.

Ia juga mengakui mendapatkan informasi dari teman-teman Zhee bahwa mereka pernah diminta untuk tidak menyampaikan detail tentang jatuhnya korban dari ketinggian.

Meskipun pihak sekolah dikatakan menyatakan kemampuan untuk membantu pengobatan, Nia merasa tidak ada transparansi informasi sejak kejadian awal.

“Yang disampaikan dokter berbeda dengan yang saya terima,” katanya.

Di media sosial, Nia menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan putrinya mengalami cedera pada organ dalam, seperti ginjal, kandung kemih, jantung, serta terjadi perdarahan otak. Zhee meninggal dunia 28 jam setelah kejadian.

(https://mediahariini.com/ Oky Indrajaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *