Perjalanan di Rangkasbitung: Stasiun, KRL, dan Multatuli

Pengalaman Berharga dalam Kegiatan “Clickers Walk to Rangkasbitung”

Pada Sabtu, 20 Desember 2025, saya mengikuti kegiatan “Clickers Walk to Rangkasbitung” yang diselenggarakan oleh Clickompasiana dan Kreatoria. Kegiatan ini berupa jalan-jalan menggunakan Commuter Line (KRL) dengan tujuan untuk melihat kondisi Stasiun Rangkasbitung yang telah direnovasi. Selain itu, peserta juga melakukan lawatan sejarah di Museum Multatuli dan rumah peninggalan Multatuli.

Dua hari sebelum kegiatan berlangsung, saya membaca informasi tentang kegiatan ini dan langsung mengklik tombol “daftar”. Saya sangat tertarik dan penasaran dengan kegiatan tersebut dengan dua alasan:

  • Pertama, saya belum pernah ke Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Dalam bayangan saya, Rangkasbitung berada di wilayah pesisir karena selalu teringat dengan Kota Bitung di Sulawesi Utara yang berhadapan dengan laut.
  • Kedua, saya penasaran dengan jejak Multatuli. Sejak duduk di bangku SD, saya sudah mendengar nama Multatuli. Karyanya berjudul “Max Havelaar” juga tidak asing meskipun belum pernah membacanya secara tuntas.

Ketika Clickompasiana dan Kreatoria mengajak untuk menyusuri sejarah di Rangkasbitung, tentu saya menganggap ini sebagai kesempatan berharga.

Menuju Rangkasbitung

Sesuai jadwal kegiatan yang disampaikan di grup WA, peserta dari arah Bekasi dan Bogor akan bertemu di Stasiun Tanah Abang pada Pukul 08.30 WIB. Sementara peserta yang tinggal di arah Rangkasbitung akan bertemu di Rangkasbitung pada Pukul 10.25.

Pada pagi, 20 Desember 2025, sekitar Pukul 07.10 WIB, saya dan anak saya berangkat dari rumah menuju Stasiun Depok Baru dengan menaiki sepeda motor. Kami menitipkan motor di sana. Untuk selanjutnya, kami menaiki KRL dari Depok Baru menuju Stasiun Manggarai.

Dalam perjalanan dari Depok Baru menuju Manggarai, kami berdiri sambil bercerita. Perjalanan sekitar setengah jam pun tidak terasa karena suasana di dalam KRL yang menyenangkan.

Setelah tiba di Manggarai, kami transit menuju Stasiun Tanah Abang. Saya sempat khawatir, kami akan terlambat jika harus menunggu KRL berikutnya dalam waktu yang lama. Namun, hanya dalam hitungan detik, KRL menuju Tanah Abang sudah muncul dari kejauhan.

Dengan melewati empat stasiun, pada Pukul 08.20 WIB, kami tiba di Stasiun Tanah Abang. Setelah berkomunikasi, di sana kami bertemu dengan Ibu Muthiah, Pak Taufik, dan Ikhsan. Pertemuan hangat yang menyenangkan meskipun belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya.

Stasiun Rangkasbitung

Sekitar Pukul 10.20, kami tiba di Stasiun Rangkasbitung. Di sana kami bertemu dengan peserta yang lain, yaitu Pak Sutiono, Daniel, Tati, Zarna, dan Hani. Sebelumnya saya juga belum pernah dengan mereka. Saya hanya mengenal mereka lewat tulisannya di .

Setelah berkenalan dan mendokumentasikan kebersamaan lewat foto, kami menelusuri Stasiun Rangkasbitung sekitar setengah jam. Beberapa peserta mengatakan bahwa stasiun yang sekarang sudah lebih baik dengan adanya renovasi.

Di bagian luar, saya melihat beberapa pekerja sedang melakukan pembangunan stasiun. Sepertinya stasiun ini akan menjadi stasiun besar dan modern di masa mendatang.

Menelusuri Jejak Multatuli

Sekitar Pukul 11.00 WIB, kami menuju Museum Multatuli yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Stasiun Rangkasbitung. Dengan jarak demikian, perjalanan dapat dilakukan dengan jalan kaki. Selain itu, perjalanan dari stasiun ke museum dapat menggunakan transportasi umum dan online.

Museum Multatuli berisi kisah Multatuli dan menceritakan sejarah Lebak. Sesuai dengan namanya, museum ini didedikasikan kepada Multatuli, nama samaran dari Eduard Douwes Dekker. Ia pernah menjabat sebagai asisten residen di Lebak pada 1856.

Setelah melakukan pendaftaran dan pembelian tiket, kami memasuki museum. Museum yang bertemakan antikolonialisme ini terdiri dari tujuh ruang, yaitu ruang selamat datang (penyambutan), kolonialisme, tanam paksa, Multatuli, Banten, Lebak, dan ruang Rangkasbitung.

Rumah Dinasti Multatuli

Setelah sekitar satu jam menikmati isi museum, kami pun kemudian menikmati kebersamaan dengan makan siang. Setelah itu, kami berjalan menuju rumah dinas Multatuli yang tidak jauh dari lokasi museum.

Rumah dinas tersebut berada di bagian belakang RSU D Dr. Adjidarmo. Sayangnya, tidak ada plakat di depan rumah sakit tersebut. Untuk melihat rumah dinas tersebut, pengunjung harus terlebih dahulu melapor kepada pihak manajemen rumah sakit.

Meskipun dinyatakan sebagai cagar budaya, kondisi rumah dinas Multatuli sangat memprihatinkan. Lantai di teras dan di dalam rumah dipenuhi dengan tanah berlumpur, sehingga tidak satu pun peserta yang berani memasuki rumah. Pintu, jendela, dan atapnya juga sudah rusak parah, sehingga bangunan ini tinggal menunggu ambruk.

Penutup

Perjalanan ke Rangkasbitung menjadi pengalaman berharga dan berkesan bagi saya dan juga anak saya. Bagi saya, perjalanan itu menambah pengetahuan baru, teman-teman baru, dan munculnya keinginan untuk melakukan penelitian ke depan. Bagi anak saya, perjalanan tersebut menjadi kegiatan yang menyenangkan yang bisa diceritakan kepada keluarga maupun teman-temannya.

Terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada Clickompasiana dan Kreatoria yang memfasilitasi kegiatan jalan-jalan yang bermakna. Semoga pada kegiatan selanjutnya lebih banyak peserta yang ikut demi mengenal sejarah dan peradaban bangsa.