Isi Artikel
- 1 Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Patah Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Retak Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Terbelah Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Hancur Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Roboh Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Putus Total Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Kehilangan Struktur Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Mengalami Keruntuhan Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Tidak Stabil Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Terjadi Kebocoran Struktur
- 2 4 Hari Agus Salim Jauh dari Istri dan Anak
- 3 Banjir Bandang Merusak Rumah dan Kebun Penduduk Banjir Dahsyat Menghancurkan Bangunan dan Kebun Warga Bencana Banjir Bandang Merusak Hunian dan Lahan Pertanian Masyarakat Banjir Besar Menghancurkan Perumahan dan Kebun Warga Kekuatan Banjir Bandang Merusak Struktur Rumah dan Kebun Penduduk
Liputan Jurnalis Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
, TAKENGON– Penduduk Desa Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Agus Salim menyampaikan, hujan terus-menerus turun selama empat hari dan empat malam di wilayah Berawang Gajah.
Hujan yang terus-menerus mengguyur menyebabkan air mengalir ke Sungai Besarhana, sehingga debit air sungai meningkat dan membahayakan permukiman penduduk di sekitarnya.
Pada hari Rabu (26/11/2025), sekitar pukul 11.00 WIB, Agus Salim berada di Jembatan Berawang Gajah.
Bersama beberapa penduduk, ia mengawasi keadaan jembatan yang menjadi satu-satunya jalur penghubung antara kampung mereka dengan Desa Berawang Gajah di seberang sungai.
Kekhawatiran mereka serupa, jika jembatan terputus, penduduk akan terisolasi.
“Hujan terus mengguyur tanpa henti. Empat hari lamanya hujan deras. Kami merasa khawatir jembatan tidak mampu menahan beban,” ujar Agus.
Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Patah Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Retak Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Terbelah Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Hancur Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Roboh Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Putus Total Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Kehilangan Struktur Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Mengalami Keruntuhan Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Tidak Stabil Detik-detik Jembatan Berawang Gajah Terjadi Kebocoran Struktur
Tidak lama kemudian, kekhawatiran itu menjadi nyata.
Banjir deras tiba-tiba muncul dari arah pegunungan.
Air bersama batu-batu besar dan kayu-kayu pohon menghancurkan permukiman penduduk.
Ada 47 rumah hancur total akibat dampak material banjir bandang.
Saat terjadi banjir, istri Agus beserta anak-anaknya sedang berada di rumah.
Agus yang masih berada di atas jembatan segera berlari pulang.
Ia tidak sempat menyelamatkan barang apa pun. Perhatiannya hanya terpusat pada keselamatan keluarganya.
Istri Agus beserta dua anak kecilnya berhasil ia bawa menyeberangi jembatan.
Pada masa itu, jembatan masih berdiri. Istrinya dan anak-anaknya berhasil dievakuasi serta selamat di seberang sungai, yaitu di desa Berawang Gajah.
Namun, salah satu anaknya yang paling tua masih tinggal di desa.
Karena khawatir, Agus memutuskan untuk kembali, ia berlari melawan rasa takut penduduk dan desir suara banjir yang deras.
Namun sebelum sampai ke seberang, jembatan Berawang Gajah roboh.
Sungai Besarhana meluap dan menghentikan seluruh jalur evakuasi.
Tidak ada pilihan lain. Agus melewati jalur perbukitan, melalui medan yang licin dan berlumpur demi mencari anak sulungnya yang masih berada di rumah.
“Alhamdulillah, anak saya dalam keadaan aman,” katanya.
4 Hari Agus Salim Jauh dari Istri dan Anak
Namun setelah jembatan rusak, Agus terpisah dari istrinya dan dua anak kecilnya selama empat hari.
Ia tinggal di desa bersama satu anaknya dan penduduk lainnya. Mereka menginap di masjid yang masih berdiri meskipun dikelilingi oleh lumpur dan puing-puing.
Selama empat hari, Agus mengatakan hanya memperoleh satu bungkus mi instan.
“Saya pernah mengalami kesulitan dan juga pernah terkena tsunami. Tapi yang ini terasa paling berat,” katanya.
Ia melihat bantuan datang dari seberang sungai, tetapi tidak semua perlengkapan bisa sampai ke tempat ia berada.
Agus memutuskan menerima situasi tersebut tanpa banyak keluh kesah.
“Kami orang biasa. Apa yang tersedia, itulah yang kami terima,” katanya.
Setelah akses darurat dibuka, Sabtu (29/11/2025), Agus berjalan kaki sepanjang jalur pegunungan selama sekitar enam jam.
Ia melintasi jalur hutan dan jembatan ayun yang masih layak digunakan.
Di sana, setelah empat hari terpisah, Agus akhirnya kembali berjumpa dengan istrinya dan anak-anaknya.
“Saya tidak terlalu banyak berbicara. Saya peluk mereka. Saya berkata, bersabar,” katanya.
Banjir Bandang Merusak Rumah dan Kebun Penduduk Banjir Dahsyat Menghancurkan Bangunan dan Kebun Warga Bencana Banjir Bandang Merusak Hunian dan Lahan Pertanian Masyarakat Banjir Besar Menghancurkan Perumahan dan Kebun Warga Kekuatan Banjir Bandang Merusak Struktur Rumah dan Kebun Penduduk
Banjir bandang tidak hanya menghancurkan rumah. Lahan cabai seluas sekitar 1,5 hektare dan kebun kopi yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga Agus rusak akibat tanah longsor.
“Jika cabai dibiarkan selama seminggu, maka sudah tidak bisa digunakan lagi,” katanya.
Sekarang Agus bersama sekitar 20 kepala keluarga tinggal di sebuah sekolah dasar di Desa Berawang Gajah.
Bantuan makanan mulai tiba dan kebutuhan pokok sudah cukup terpenuhi. Namun, para warga masih merasakan dampak trauma.
Agus menegaskan bahwa ia tidak ingin kembali tinggal di tempat yang dulu karena khawatir akan keselamatan anak-anaknya.
“Kami telah mengalami dua kali bencana. Kami tidak menginginkan hal itu terjadi kembali,” katanya.
Ia berharap pemerintah mampu menyediakan tempat tinggal yang lebih aman serta bantuan alat pertanian agar masyarakat dapat kembali bekerja.
“Saya seorang petani. Jika ada alat, saya ingin kembali memulai,” katanya.
Di tengah rasa kehilangan, Agus masih merasa bersyukur. Rumah dan harta bendanya hilang, namun anggota keluarganya dalam keadaan aman.
“Keluarga adalah hal yang paling penting bagi saya saat ini,” ujarnya.(*)







