Cabai adalah komoditas hortikultura yang sangat diminati oleh para petani. Sayangnya, tanaman ini mudah terserang berbagai jenis penyakit.
Banyak hambatan, mulai dari infeksi jamur hingga virus, sering muncul terutama pada musim hujan dan situasi lingkungan yang tidak menguntungkan.
Serangan penyakit tidak hanya mengurangi kualitas cabai, tetapi juga berpotensi menyebabkan penurunan hasil panen yang cukup besar.
Kurangnya pemahaman tentang tanda-tanda awal dan metode penanganan sering menyebabkan penyakit menyebar lebih luas di area pertanian.
Lalu, apa saja penyakit yang sering menyerang tanaman cabai dan bagaimana cara mengatasinya?
Penyakit utama pada tanaman cabai dan penyebabnya
Dosen Kepala Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof. Loekas Soesanto, menyampaikan bahwa terdapat dua penyakit utama yang paling sering menyerang dan menyebabkan kerugian besar pada tanaman cabai.
Penyakit tersebut adalah anthraknosa atau patek yang menyerang buah, serta penyakit virus Gemini yang mampu menyerang tanaman sejak usia muda.
“Penyakit utama pada cabai yang paling merugikan adalah antraknosa atau busuk buah, serta penyakit virus Gemini yang menyerang tanaman sejak masih muda,” kata Loekas saat diminta untuk memberikan informasi., Minggu (21/12/2025).
Menurutnya, munculnya penyakit pada tanaman cabai sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kesalahan dalam metode penanaman.
Musim hujan merupakan situasi yang paling berbahaya karena memperbesar tingkat kelembapan.
Di sisi budidaya, penggunaan benih yang tidak layak, pemberian pupuk nitrogen berlebihan, serta kebersihan kebun yang kurang memadai turut memperparah serangan penyakit.
“Kondisi cuaca terutama musim hujan, sementara dari segi teknik budidaya biasanya berkaitan dengan benih atau bibit, pemupukan nitrogen yang berlebihan, dan kebersihan lahan yang tidak memadai,” jelas dosen yang juga menjabat sebagai Koordinator Prodi S1 Proteksi Tanaman tersebut.
Gejala serangan, pengelolaan, dan pencegahan jangka panjang
Loekas menyampaikan, tanda-tanda awal penyakit pada tanaman cabai sebenarnya bisa diketahui secara dini di lapangan.
Di antraknosa, buah cabai mulai menunjukkan gejala busuk, sementara infeksi virus Gemini ditandai dengan daun yang menguning dan perkembangan tanaman yang terganggu.
“Jika antraknosa ditandai dengan buah yang busuk, sedangkan virus Gemini ditandai dengan daun yang menguning,” katanya.
Ia menekankan perlunya tindakan cepat untuk menghindari penyebaran yang lebih luas. Buah yang terkena antraknosa sebaiknya segera dipetik dan dihancurkan dengan cara dibakar.
Di sisi lain, tanaman yang terinfeksi virus Gemini harus dicabut dan dibakar, serta dilakukan pengendalian serangga penyebar dengan menggunakan pestisida alami.
Sebagai metode pengendalian yang dianggap efisien dan cukup aman, Prof. Loekas merekomendasikan penggunaan pestisida yang berasal dari metabolit sekunder mikroba antagonis.
Penggunaan aplikasi dilakukan melalui penyemprotan pada bunga dan pengelolaan daun secara rutin, ditambah dengan perbaikan nutrisi dan pengelolaan tanah.
“Pengendalian yang efektif dan aman dilakukan dengan mencabut bunga dan menyemprot daun menggunakan pestisida yang berasal dari metabolit sekunder mikroba antagonis, ditambah pemberian pupuk kalium, serta membuat saluran drainase agar air tidak tergenang,” katanya.
Untuk pencegahan jangka panjang, ia menekankan bahwa hanya menggunakan benih unggul saja tidak cukup.
Petani juga harus memastikan benih dalam keadaan baik, menerapkan pemupukan yang seimbang, serta menggunakan pendekatan ekologis dengan menanam tanaman pelindung dan area perlindungan di sekitar kebun cabai.
“Strategi jangka panjangnya adalah menggunakan benih berkualitas, menerapkan pupuk yang seimbang, menyemprot pestisida berbasis mikroba antagonis, serta menanam tanaman penjaga dan area perlindungan di sekitar cabai,” ujar Loekas.
Menurutnya, pendekatan yang menyeluruh sangat diperlukan agar tanaman cabai lebih kuat menghadapi serangan penyakit dan hasil panen tetap terjaga, khususnya dalam kondisi perubahan iklim yang semakin sulit untuk diprediksi.







