Ketika Maestro Sunda Berbicara di Bawah Pohon: Gaya Unik dan Imajinasi Luar Biasa

KABAR-PRIANGAN.COM – Sejak saya mengenalnya, Godi Suwarna selalu tampil konsisten: rambut putih panjang sebahu, tergerai; pakaian tradisional—kemeja korduroi, celana kotak seperti sarung; aksesoris gelang; sesekali topi atau ikat kepala. Demikian juga saat kami melakukan wawancara di Kafe Qitrie Komplek Gedung Pramuka, Ciamis, Sabtu, 20 Desember 2025. Ia menarik, humoris, dan sangat ramah. Ia mampu berbicara dengan generasi yang jauh lebih muda tanpa ada hambatan.

Beberapa pakaian yang ia gunakan justru dibuat oleh istrinya, Raden Rahmayanti Nilakusumah, atau dikenal sebagai Neng Peking. Godi Suwarna, yang biasa dipanggil Kang Godi, merasa sangat berterima kasih. “Ia tidak pernah cemburu,” ujarnya. Padahal ia sering bersinggungan dan bercanda dengan banyak wanita, baik dalam kehidupan nyata maupun di media sosial. Teh Neng bersikap santai, tidak merepotkan, namun sangat perhatian.

Bacaan Lainnya

Saat Godi mengalami sakit parah pada tahun 2024 dan harus menjalani operasi paru-paru, Teh Neng merawatnya dengan penuh perhatian. “Di rumah sakit saya merasa sangat takut,” ujar Godi jujur. Suara orang yang kesakitan, berita kematian—semua hal itu memberatkan. Namun dukungan dari orang-orang, terutama istrinya, sangat terasa.

– Saat Sang Guru Sastra Sunda Duduk di Bawah Pohon dan Menceritakan (1): AKI serta Pendekatan Ancaman Kepunahan Bahasa

– Dengan hadirnya Godi Suwarna, Perayaan Sastra Rumah Koclak 2025 Dibuka, Menghidupkan Ruang Literasi di Ciamis

Sistem Seni di Ciamis dan Tokoh-TokohnyaMasagi

Sejak wabah pandemi, hampir tidak pernah ada undangan untuk membacakan puisi. “Baru kemarin, setelah AKI, Disbudpar mengadakan acara dan memanggil saya,” katanya sambil tersenyum pahit.

Ia berharap Pemerintah Ciamis mampu membangun ekosistem seni yang baik. Ia juga menyampaikan kritik tajam: dewan kebudayaan seharusnya diisi oleh orang yangmasagi:sangat memahami budaya, bukan hanya sekadar memiliki gelar dan jabatan. Ia masih merasa sakit hati mengenai kasus Karang Kamulyan yang ditutup begitu saja, padahal sangat suci.

Kang Godi yang tinggal di Ciamis selama beberapa dekade berharap dibentuknya Dewan Kesenian Ciamis yang lebih spesifik, sementara Dewan Kebudayaan memiliki ruang lingkup objek budaya yang terlalu luas.

Sastrawan Muda Harus Fokus!

Kepada para penulis muda Sunda, pesannya sederhana namun mendalam: fokus dan konsentrasi. “Jangan terlalu memikirkan jauh-jauh. Fokuslah pada yang dekat. Kelak yang dekat itu akan membawa kita jauh atau yang jauh akan datang sendiri.”

Godi sendiri telah membuktikan hal tersebut. Dengan konsisten memperdalam Sastra Sunda, ia mampu menginjak panggung-panggung internasional.

Sebagai seorang inovator, Godi pernah disebut sebagai penghancur. Contohnya cerita pendek Uwak Awik—yang menceritakan wayang yang menentang dalang—dihukum karena melanggar aturan. Untungnya, pada masa itu seni sedang bergerak menuju avant-garde. Dan sastra Sunda juga terpengaruhnya secara positif. Ia kemudian merumuskan prinsip: Menolak Tradisi, Berawal dari Tradisi.

Merawat dan Menggugat Tradisi

Pada masa kecilnya, Godi Suwarna besar di tengah lingkungan keluarga yang penuh dengan kisah-kisah dan kearifan lokal, di mana dongeng menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dan imajinasi dibiarkan berkembang bebas. Ayah dan ibunya yang bekerja sebagai guru senang menceritakan kisah-kisah, membaca sastra, serta menanamkan nilai-nilai penting melalui cerita-cerita yang melekat dalam ingatan, mulai dari mitos sederhana hingga nasihat yang disampaikan dengan cara yang penuh imajinasi.

Godi menceritakan ketika ia kecil, ibunya berkata: setelah bermain di luar, mainan harus dikembalikan dan disimpan di dalam agar tidak kedinginan. “Saya justrumencoba untuk menyimpan permainan itu(saya justru sengaja menyimpan mainan), lalu di malam hari saya melihatnya. mainan di luar seperti kuda-kudaan, apakah benar-benar kedinginan?Mungkin pikiran saya seperti cerita Toy Story saja.,” jelasnya. Ia mengakui sering melakukan perlawanan sejak kecil.

Namun tidak semua cerita memberikan kesan hangat; kisah Nabi Ibrahim yang akan menyembelih Nabi Ismail, yang sering diceritakan oleh ayahnya menjelang magrib, justru menimbulkan rasa takut yang dalam pada diri Godi kecil—ia selalu memandang ayahnya yang sedang tidur sambil bertanya di hatinya, apakah mimpi yang sedang dialaminya adalah tentang membunuhnya?

Di luar rumah, ia bersama teman-temannya sering mengadakan pertunjukan kecil, meniru peran dalang, membuat wayang dari kertas, dan merayakan imajinasi mereka dengan didampingi oleh pamannya yang merupakan seorang dalang. Namun neneknya selalu marah karena dianggap sebagai bagian dari seni pertunjukan oleh pamannya.

Pada suatu hari, ruang bermain itu dirusak oleh aparat tanpa pemberitahuan, sebuah kejadian yang baru ia mengerti bertahun-tahun setelahnya—mungkin karena seni pada masa itu dicurigai terkait dengan Lekra, dalam situasi politik yang sangat sensitif. Dari rasa takut, dongeng, dan benturan dengan sejarah, benih imajinasi Godi Suwarna berkembang, membentuk keberaniannya nanti untuk merawat tradisi sekaligus mempertanyakannya.

Kenangan masa kecil itu membuat saya menyadari: betapa pentingnya imajinasi dalam mendidik anak. Sekarang anak-anak terlalu dini diajarkan untuk berpikir rasional, sehingga kehilangan kesempatan untuk bersantai dan membayangkan. Padahal banyak kearifan lokal yang menawarkan kaya akan daya imajinasi.

Saat ditanya karya yang paling disukai, ia mengatakanJagat Alit, Grand Prix, dan Blues Kere Lauk. Meski tampil seperti seorang penyihir dengan puisinya yang memikat, Godi tertawa dan berkata, “Saya orangnya suka musik pop.”

Dan pertemuan di saat hujan deras itu, akhirnya saya menyadari bahwa Godi Suwarna bukan sekadar nama yang terkenal. Ia adalah seorang manusia yang penuh dengan luka, humor, cinta, imajinasi, dan pengalaman hidup—yang telah membuktikan bahwa fokus pada hal-hal yang dekat bisa membawa seseorang pergi sangat jauh.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *