Petani Indramayu Bantu Basmi Hama Tikus untuk Cegah Kekurangan Panen

– Pada masa tanam yang rentan serangan hama, puluhan petani dari Desa Sliyeg Lor, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, berkolaborasi melaksanakan kegiatan “Gropyokan Tikus”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa pagi mulai pukul 07.30 WIB hingga selesai, di area persawahan Blok Widara.

Upaya bersama ini bertujuan untuk mengungkap sarang tikus dan menekan jumlah hama yang sering merusak tanaman padi, sebagai bagian dari strategi pengendalian hama tradisional yang ramah lingkungan.

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang dimulai oleh pemerintah desa dan didukung oleh anggota TNI, Polri, serta dinas pertanian setempat melibatkan sekitar 50 petani beserta pejabat terkait.

Mereka bersama-sama menggali sarang tikus dengan alat sederhana seperti cangkul dan sekop, sambil memastikan kegiatan berjalan dengan aman dan kondusif tanpa terjadi insiden.

Menurut Hj. Yunani, kegiatan ini muncul akibat keluhan para petani yang sering menghadapi hambatan selama musim tanam. “Serangan tikus menjadi ancaman bagi kami.”

Hanya tahun ini, ribuan hektar persawahan di Indramayu menghadapi risiko gagal panen akibat hama tersebut.

“Metode gropyokan merupakan cara tradisional yang efisien dalam menekan jumlah tikus sekaligus meningkatkan rasa kebersamaan dalam masyarakat,” katanya saat diwawancarai di lokasi tersebut.

Ia menyampaikan bahwa metode ini lebih aman dibandingkan penggunaan perangkap listrik atau bahan kimia beracun yang dapat membahayakan manusia dan lingkungan.

Latar belakang permasalahan hama tikus di Indramayu memang semakin mengkhawatirkan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, serangan tikus telah merusak puluhan ribu hektare lahan persawahan di berbagai kecamatan, termasuk wilayah hulu seperti Sliyeg.

Pada bulan Februari lalu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indramayu, Sutatang, mengungkapkan bahwa hama tikus menyerang lahan persawahan secara besar-besaran, yang berdampak pada kerugian ekonomi bagi para petani.

Bahkan, pada bulan Agustus, petani di Indramayu menghadapi dua ancaman sekaligus: serangan tikus di lahan basah serta kekeringan di daerah hulu akibat debit air yang sedikit.

Hal ini memperparah keadaan pertanian di wilayah yang dikenal sebagai gudang beras Jawa Barat.

Pemerintah Kabupaten Indramayu telah mengadopsi berbagai pendekatan kreatif dalam menangani permasalahan tersebut.

Dimulai dari program “Ular Sahabat Tani” yang dipimpin oleh Bupati Lucky Hakim, di mana ribuan ular dilepaskan sebagai predator alami tikus, hingga pengembangan burung hantu dan biawak untuk pengendalian hayati.

Pada bulan Agustus 2025, Bupati Lucky Hakim berencana melepaskan 10.000 ular ke area persawahan guna menjaga hasil panen petani.

“Ular merupakan predator alami yang efisien. Keberadaannya berkontribusi dalam menjaga hasil panen tanpa memerlukan bahan kimia,” ujar Lucky Hakim dalam pernyataan resmi yang dikeluarkannya pada waktu itu.

Selain itu, Dinas Pertanian juga mendorong pemanfaatan Trap Barrier System (TBS) dan Linear Trap Barrier System (LTBS), teknologi pengendalian hama yang ramah lingkungan berdasarkan pemahaman ekologis tikus.

Di tingkat nasional, pengelolaan hama tikus menjadi fokus utama Kementerian Pertanian untuk mendukung ketersediaan pangan.

Berdasarkan data dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, hama tikus menyebabkan kerugian sebesar 20% dari produksi padi setiap tahun di Indonesia.

Program seperti TBS yang menggabungkan perangkap, umpan racun, dan kebersihan lingkungan telah dijalankan di berbagai provinsi, termasuk Jawa Barat.

Di Karangasem, Bali, misalnya, Uptd Balai Perlindungan Tanaman Pangan melakukan kegiatan serupa pada Juli 2025, yang berhasil menurunkan jumlah tikus secara signifikan.

Di Majalengka, kerja sama antara Dinas Perkebunan Jawa Barat dan pabrik gula setempat melakukan kegiatan rutin sejak September 2024 untuk menjaga tanaman tebu.

Kembali ke Desa Sliyeg Lor, Serma Sarwika dari Kodim 0616/Indramayu menekankan fungsi TNI dalam pengembangan wilayah (Wanwil).

Kegiatan ini sesuai dengan program kami dalam mendukung para petani.

Dengan menekan populasi hama tikus, kami berharap hasil panen padi dapat mencapai tingkat maksimal,” ujarnya. Dian Ratnasari dari POPT menambahkan bahwa gropyokan tidak hanya efektif tetapi juga memberikan edukasi kepada petani mengenai pengendalian terpadu.

Kami menyarankan dilakukan secara teratur, khususnya menjelang musim tanam, guna menghindari peningkatan jumlah tikus.

Petani setempat bernama Sukirno menyambut positif inisiatif tersebut. “Biasanya kami menggunakan racun atau perangkap listrik, tetapi hal itu berbahaya. Gropyokan lebih aman dan melibatkan seluruh masyarakat,” katanya.

Namun demikian, masih terdapat tantangan. Beberapa petani mengungkapkan bahwa serangan tikus semakin berat karena perubahan iklim dan sanitasi lahan yang tidak memadai.

Pada bulan Desember ini, kejadian perangkap listrik yang menyebabkan kematian di Indramayu kembali menjadi peringatan, seperti kejadian awal bulan lalu ketika seorang petani meninggal akibat tersengat saat mengusir tikus.

Kegiatan di Sliyeg Lor berjalan lancar dan berhasil, dengan ratusan tikus berhasil dikendalikan. Peserta berharap inisiatif ini dapat diulang di desa lain di Indramayu.

Pemerintah daerah diharapkan tetap memberikan dukungan melalui penyediaan alat dan bahan pengendali, serta pendidikan yang berkelanjutan.

Di tengah tujuan swasembada pangan nasional, kerja sama semacam ini menjadi kunci dalam melindungi hasil pertanian dari ancaman hama.

Berkolaborasi antar sektor, Indramayu berharap mampu mengatasi krisis hama tikus. Namun, keberhasilan jangka panjang bergantung pada kesadaran petani serta dukungan kebijakan yang tetap.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *