Saat banjir bandang terjang kawasan wisata Guci Tegal, Jakarta dibayangi banjir dari cuaca ekstrem

– Setelah Aceh, Sumatra Barat dan Sumatra Utara, kini Tegal, Jawa Tengah diterjang banjir bandang. Di sisi lain, Jakarta dihantui potensi banjir dengan adanya prakiraan cuaca ekstrem.

Seperti diketahui, pada akhir November 2025 lalu, tiga provinsi di Pulau Sumatra diterjang banjir bandang hingga longsor besar.

Bacaan Lainnya

Dampaknya sangat serius, hingga kini, hampir sebulan setelahnya, sudah 1000 lebih korban jiwa teridentifikasi, sedangkan masih ada ratusan orang lain yang masih hilang.

Dampak banjir Sumatra ramai dinilai karena maraknya pembalakan liar dan alihfungsi lahan.

Gelondongan kayu yang terbawa arus menjadi bukti nyata Hutan Sumatra dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Banjir Bandang Tegal

Sementara, pada Sabtu (20/12/2025), banjir bandang menerjang kawasan wisata Guci, Tegal, Jawa Tengah.

Area pemandian air hangat yang menjadi primadona destinasi warga di Pulau Jawa, termasuk Jakarta itu mendadak hancur diterjang gelombang air bercampur tanah.

Banjir Tegal mengingatkan pada Banjir Sumatra lantaran kesamaan kondisi banyaknya gelondongan kayu yang terbawa air.

Dilansir TribunJateng, Pemandian Air Panas Pancuran 13 Guci sementara ditutup untuk umum dan dikosongkan demi keselamatan pengunjung dan pekerja.

Tepatnya, bagian yang hencur diterjang banjir bandang adalah pemandian Pancuran 13 Guci.

Selain Pancuran 13 Guci, pemandian Pancuran 5 juga terdampak karena tertutup material batu dan pasir.

Pengelola Pancuran 13 Guci, Zami, mengatakan hujan mengguyur pada Sabtu pukul 11.30 WIB dan semakin deras pada pukul 14.30 WIB.

Zumi menjelaskan, di sungai kawasan wisata Guci, ada batu besar yang menjadi pertanda akan adanya banjir.

Sebelum banjir melanda, air telah menutupi batu besar itu. Zumi pun meminta pengunjung untuk berhenti berendam dan mengevakuasi diri.

Setelah pengunjung dievakuasi, banjir bandang langsung menerjang dan menyebabkan kerusakan sangat parah di area Pancuran 13 Guci.

Bagian yang paling parah yakni kolam pemandian yang sebelumnya menjadi destinasi favorit pengunjung langsung hilang tergerus air. 

“Setelah kejadian saya sempat merenung dan menangis melihat kondisi kerusakan yang sangat parah. Baru kali ini mengalami peristiwa sampai kondisi kolam pemandian hilang. Sementara Pancuran 13 Guci ditutup untuk umum,” cerita Zami,

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan belum ada laporan korban meninggal dunia dari kejadian banjir bandang di Guci.

“Berdasarkan laporan yang masuk sampai malam ini, tidak terdapat korban jiwa dari pengunjung kawasan wisata,” ungkapnya.

BNPB mengimbau masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Gung, seperti Balapulang, Dukuhwaru, Adiwerna, hingga kawasan Pantura, agar meningkatkan kewaspadaan.

Diintai Banjir

Sementara itu, Jakarta pun diintai banjir dengan peringatan akan potensi cuaca ekstrem.

Peringatan dini tersebut merujuk pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terjadi di wilayah DKI Jakarta selama periode tersebut.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Muhammad Yohan, mengatakan potensi cuaca ekstrem tersebut perlu diantisipasi sejak dini guna meminimalisasi dampak bencana hidrometeorologi.

“Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siaga dalam mengantisipasi dampak dari cuaca ekstrem,” ucapnya saat dikonfirmasi, Minggu (21/12/2025).

Yohan menuturkan, masyarakat diimbau untuk rutin memantau informasi resmi terkait kondisi cuaca, khususnya di wilayah rawan genangan dan banjir.

“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas. Warga diimbau menyiapkan perlengkapan dasar seperti payung atau jas hujan serta tas siaga bencana, terutama bagi yang beraktivitas di luar rumah,” kata Yohan.

Ia menambahkan, masyarakat juga dapat memanfaatkan kanal informasi BPBD DKI Jakarta untuk memantau tinggi muka air dan perkembangan potensi banjir di Jakarta.

BPBD DKI Jakarta juga mengingatkan warga agar segera melapor apabila menemukan potensi genangan atau banjir di lingkungan sekitar.

“Apabila terjadi kondisi darurat, masyarakat dapat segera menghubungi layanan darurat 112 agar penanganan bisa dilakukan dengan cepat,” tutur Yohan.

Berita Terkait

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *