Mengenal Varang, sosok antagonis di Avatar: Fire and Ash

FILM Avatar: Fire and Ash memperkenalkan Klan Mangkwan atau Ash People, salah satu klan paling misterius di Pandora yang menghadirkan sisi jauh lebih gelap dibandingkan klan-klan sebelumnya. Kelompok ini dipimpin oleh Varang dan tinggal di wilayah tandus bernama Ash Village.

Klan Mangkwan berasal dari wilayah yang hancur akibat letusan gunung berapi. Setelah letusan gunung berapi menghancurkan rumah mereka, mereka mengubah sisa-sisa hangus pohon itu menjadi rumah baru. Varang menunggangi makhluk mengerikan bernama Nightwraith yang dianggap sebagai penyelamat kaumnya.

Bacaan Lainnya

Sutradara James Cameron menjelaskan bahwa Varang memilih jalan yang lebih gelap sebagai sosok spiritual, seorang Tsahik. Ia mempelajari sisi kelam dari kemampuan itu dan melatih dirinya sendiri. Ia bahkan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pikiran dan menimbulkan rasa sakit, yang membuatnya bisa memaksa siapapun untuk berkata jujur,” ujarnya.

Varang dalam Avatar: Fire and Ash. Dok. Disney/20th Century Studios

Hidup dalam Keputusasaan

Varang diperankan oleh Oona Chaplin. Cucu dari Charlie Chaplin ini menggambarkan Varang sebagai “Ratu muda yang hidup dalam keputusasaan, di tempat yang semuanya tertutup abu dan perlahan mati.” Hal itu menunjukkan betapa berat tekanan yang harus ia tanggung sebagai pemimpin klan yang terus berada dalam kondisi suram.

Klan Mangkwan sendiri memiliki budaya yang unik akibat bencana besar yang mengguncang tanah mereka, hingga membuat mereka meninggalkan Eywa. Mereka menutupi tubuh dengan campuran abu dan air sebagai simbol dari penderitaan masa lalu yang membentuk mereka. Kehadiran mereka membuka sisi Pandora yang lebih gelap dan belum pernah terlihat sebelumnya.

“Rakyatnya telah menderita trauma yang hebat. Dia menemukan cara untuk memanfaatkan kekuatan rasa sakit, kesedihan, dan keputusasaan itu dan benar-benar mengubahnya menjadi kekuatannya. Jadi, sebenarnya, kelemahannya adalah kekuatannya,” ujar Oona Chaplin.

Varang dalam Avatar: Fire and Ash. Dok. Disney/20th Century Studios

Dalam Avatar: Fire and Ash, Varang menemukan sekutu dalam diri Quaritch (Stephen Lang), Kolonel yang bertanggung jawab atas tim elit tentara yang dibangkitkan sebagai rekombinan, jenis prajurit hibrida manusia/Na’vi transgenik yang diciptakan oleh RDA.

Kostum Varang

Tinggal di daerah vulkanik, pakaian Klan Mangkwan terbuat dari kombinasi kulit usang, logam, batu, dan beberapa bulu. Warna Varang adalah merah dan merah jingga. Dilansir dari Variety, penggunaan “merah darah” adalah penanda ekstremitas. Warna itu ada di kulit mereka.

Kostum Varang dan para Ash People didesain minimalis, tetapi yang paling menonjol adalah hiasan kepalanya, yang desainnya relatif sederhana. Perancang kostum Deborah Scott membuat hiasan kepala itu dari kumpulan bulu dan membuatnya terlihat seperti burung merak. Dia membutuhkan waktu selama empat bulan untuk membuat kostum Varang.

Kisah Avatar: Fire and Ash berlangsung beberapa minggu setelah peristiwa Avatar: The Way of Water. Keluarga Sully masih hidup bersama klan Metkayina di Pandora sambil berusaha beradaptasi dengan kepergian Neteyam. Masing-masing anggota keluarga menghadapi duka itu dengan cara mereka sendiri.

Di tengah upaya Spider menyesuaikan diri dengan kehidupan Metkayina, keluarga Sully menyadari bahwa ia tidak bisa lagi tinggal bersama mereka demi keselamatannya. Melalui pertemuan dengan Klan Tlalim, atau Wind Traders, pemimpin mereka, Peylak, setuju mengantar Spider kembali ke High Camp, dan seluruh keluarga Sully memutuskan untuk ikut serta dalam perjalanan tersebut. Namun, rencana mereka terhenti ketika rombongan diserang oleh Klan Mangkwan, atau Ash People, yang dipimpin oleh Varang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *