Seni Berbagi Tawa Sederhana Bareng Nyonya di Sore Jum’at

Sawit, Khotbah, dan Gorengan: Seni Menikmati Hari yang “Campur Aduk”. Entah dari mana catatan ini harus kumulai, tapi rasanya tangan sudah gatal ingin bertutur lewat tulisan. 

Jujur saja, hari ini rasanya campur aduk sekali. Ada lelahnya, ada khidmatnya, tapi ditutup dengan manis—eh, pedas maksudnya. Hidup di Kalimantan ini kalau tidak dibawa santai, bisa cepat tua kita karena urusan kerjaan yang tidak ada habisnya.

Bacaan Lainnya

Pagi yang Gahar di Atas Kemudi

Pagi-pagi sekali, saya sudah bergelut dengan jalanan dan debu. Tugas hari ini? Begawi (bekerja) keras nyetir mobil, mengangkut buah sawit menuju kilang produksi dengan jarak tempuh dan rusaknya jalanan yang sulit dijelaskan hehe. 

Nyetir di jalur perkebunan itu butuh konsentrasi tingkat dewa. Mata harus jeli, tangan harus kuat menahan setir. Di sela-sela guncangan mobil, pikiran saya sering melayang, tapi itulah seninya hidup. 

Kerja keras itu harga mati buat kita yang ingin dapur tetap ngepul. Capek? Jelas. Tapi melihat tumpukan sawit itu sampai ke tujuan, ada rasa lega yang sulit dijelaskan.

Merenungi Nasib Saudara di Mimbar Jumat

Begitu matahari naik tepat di atas kepala, ritme hidup saya berubah total. Dari yang tadinya pegang setir dan keringatan, tiba-tiba harus berdiri di mimbar masjid. 

Ya, siang tadi di hari Jumat yang berkah, saya dipercayakan untuk menyampaikan khotbah. Rasanya tanggung jawab ini besar sekali, apalagi materi yang saya bawa adalah soal pesan kemanusiaan.

Saya bercerita tentang saudara-saudara kita di Sumatra. Bayangkan, tiga provinsi di sana lagi berduka karena banjir besar. Dan kita tahu sendiri apa penyebabnya: illegal logging dan pembabatan hutan yang makin gila-gilaan. 

Hutan kita digunduli, lalu alam membalasnya dengan cara yang pahit. Di atas mimbar, saya ajak para jamaah untuk merasa sebagai “satu tubuh.” Kalau saudara kita di sana basah kuyup karena banjir, kita di sini pun harusnya merasa kedinginan. 

Empati itu bukan cuma teori, tapi gaya hidup yang harus kita bawa sampai ke luar masjid. Begitulah singkatnya, jika saya menuliskan ulang isi kutbahnya maka tulisan ini akan menjadi format teks ceramah, hehe.

Ritual Sore: Gorengan, Sambal, dan Nyonya

Nah, ini dia bagian yang paling nyaman. Setelah seharian banting tulang dan menguras emosi di mimbar, sore harinya adalah waktu buat “Nyonya”—istri tercinta. 

Kami tidak pergi ke tempat yang mewah-mewah, cukup jalan-jalan sore menikmati suasana Kalimantan yang khas. Tujuan utama kami? Berburu gorengan! 

Ini nih yang bikin kangen kalau lagi di luar pulau. Gorengan di sini itu khas banget, apalagi kalau dimakan pakai sambal cairnya bersama bumbu kacang yang pedas-pedas mantap. 

Aduh, rasanya nyaman banar (enak sekali)! Tidak puas sampai di situ, kami juga menikmati  nasi goreng paling juara di daerah sini. 

Sederhana saja, tapi melihat istri senang, rasa capek ngangkut sawit tadi pagi rasanya langsung hilang terbang ke awan. Perjalanan hari ini benar-benar seru!

Ilmu “Pegang Atap” dan Berbagi Tawa

Satu hal yang ingin saya titipkan buat kalian yang membaca tulisan ini: begawi keras itu memang perlu, tapi jangan sampai kita jadi robot yang lupa tertawa. 

Berbagilah kepada sesama, terutama sama orang-orang yang paling dekat dan kita cintai.

Berbagi itu tidak harus pakai uang jutaan. Tadi di mobil, pas lagi lewat jalanan yang menurun, saya sempat ngerjain nyonya (istri). Saya bilang, “Ma, pegang atap mobilnya kuat-kuat supaya kita tidak merosot!” Eh, dia beneran pegang atap mobil dengan muka serius. 

Begitu sadar kalau itu cuma akal-akalan saya, kami berdua tertawa lepas. Sederhana, kan? Cuma modal bercanda konyol begitu saja sudah bisa bikin suasana hati jadi cerah lagi. Itulah cara simpel berbagi kebahagiaan.

Hidup ini memang campur aduk seperti es campur, ada manis, asam, dan dinginnya. Tapi selama kita masih bisa berbagi tawa dengan orang tersayang, semuanya bakal baik-baik saja.

Semoga catatan harian ini layak buat dibagikan dan ada manfaatnya buat kita semua. Salam dari Bumi Borneo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *