Isi Artikel
- 1 1. Hutan sering diibaratkan sebagai spons besar yang selalu berfungsi secara alami
- 2 2. Dampak penggundulan hutan dianggap sama di berbagai tingkatan wilayah
- 3 3. Semua kejadian banjir dianggap sebagai dampak langsung dari penebangan hutan
- 4 4. Perubahan wilayah juga menjadi penyebab utama terjadinya banjir
- 5 5. Hubungan antara banjir dan deforestasi dipermudah tanpa memperhatikan konteksnya
Hubungan antara banjir dan deforestasi sering dianggap sebagai hubungan yang sederhana. Seperti satu kejadian secara otomatis menyebabkan yang lain. Padahal, kita perlu memahami bahwa banjir terjadi akibat interaksi dari berbagai faktor.
Jika deforestasi dianggap sebagai satu-satunya faktor, maka proses alami yang rumit menjadi terlalu dipermudah. Untuk memahami hubungannya dengan lebih tepat, berikut beberapa kesalahan umum dalam memahami kaitan antara banjir dan deforestasi yang perlu kamu ketahui. Baca hingga selesai, ya!
1. Hutan sering diibaratkan sebagai spons besar yang selalu berfungsi secara alami
Hutan sering kali digambarkan sebagai tempat yang dapat menyerap air dalam jumlah tak terbatas, seakan tanah di bawahnya tidak pernah penuh. Pandangan ini membuat hutan tampak mampu menghindari berbagai jenis banjir. Padahal, tanah tetap memiliki batasan dalam menyimpan air. Ketika kapasitas tersebut terlebihi, air akan mulai mengalir ke permukaan.
Saat hujan turun dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama, tanah yang sudah jenuh tidak memandang apakah ada tutupan hutan atau tidak. Air meluap karena kapasitas penyerapan air telah penuh. Pada situasi ini, banjir bukanlah kegagalan hutan, melainkan batas alami dari sistem tanah. Mengira bahwa hutan selalu mampu menahan air justru mengarah pada pemahaman yang salah tentang penyebab banjir.
2. Dampak penggundulan hutan dianggap sama di berbagai tingkatan wilayah
Dampak dari deforestasi sering kali dianggap berlebihan tanpa mempertimbangkan konteks aslinya. Hasil yang diperoleh dari wilayah kecil terkadang digunakan untuk menjelaskan kejadian banjir di sistem sungai yang lebih luas. Padahal, aliran air di area sempit dan cekungan besar memiliki mekanisme yang berbeda. Ukuran wilayah memengaruhi bagaimana dampak tersebut terjadi.
Di area yang sempit, perubahan tutupan lahan memang dapat berdampak pada banjir kecil hingga sedang. Namun, untuk banjir besar yang melibatkan kawasan luas, faktor cuaca dalam skala besar lebih mendominasi. Pada situasi demikian, hilangnya hutan di bagian hulu tidak lagi menjadi penentu utama. Mengabaikan perbedaan ukuran membuat hubungan sebab-akibat terlihat lebih sederhana dari kenyataannya.
3. Semua kejadian banjir dianggap sebagai dampak langsung dari penebangan hutan
Deforestasi sering dipandang sebagai penyebab tunggal untuk setiap kejadian banjir besar. Pendekatan ini mengabaikan peran faktor-faktor lain yang bekerja bersamaan. Padahal, banjir jarang terjadi akibat satu perubahan saja. Ia muncul dari kombinasi berbagai kondisi yang terjadi pada waktu tertentu.
Curah hujan yang sangat tinggi, perubahan penggunaan lahan, serta modifikasi aliran air yang dilakukan manusia juga berkontribusi dalam membentuk risiko banjir. Ketika satu faktor dipandang secara terpisah, penjelasannya menjadi tidak seimbang. Menyalahkan penebangan hutan saja terasa mudah, namun tidak selalu akurat. Kesalahan ini menyebabkan solusi yang ditawarkan sering kali tidak tepat sasaran.
4. Perubahan wilayah juga menjadi penyebab utama terjadinya banjir
Air mengalir sangat cepat di permukaan yang keras seperti jalan, bangunan, dan kawasan industri. Perubahan ini mempercepat aliran air menuju sungai tanpa sempat terhenti. Akibatnya muncul lebih cepat dibanding perubahan bentuk permukaan bumi. Namun, faktor ini sering tidak menjadi bagian dari cerita deforestasi.
Saat hutan terus menjadi perhatian, aliran air dari daerah perkotaan sering kali tidak mendapat pembahasan. Padahal, air yang berasal dari wilayah ini bisa menyebabkan peningkatan debit secara tiba-tiba. Dalam banyak situasi, kontribusinya justru lebih terasa dibanding pengurangan tutupan hutan. Mengamati banjir tanpa mempertimbangkan aspek ini membuat pemahaman tentang penyebabnya tidak lengkap.
5. Hubungan antara banjir dan deforestasi dipermudah tanpa memperhatikan konteksnya
Penjelasan mengenai banjir seringkali berhenti pada jawaban “ya” atau “tidak”. Pendekatan semacam ini melewatkan perbedaan kondisi tanah, jenis hutan, serta tahap perubahan lahan. Padahal, dampak dari deforestasi tidak sama di setiap daerah.
Hutan muda, hutan tua, tanah berpasir, dan tanah liat bereaksi berbeda terhadap curah hujan. Meskipun kehilangan daun dan akar dapat meningkatkan potensi banjir, besarnya dampak tidak bisa disimpulkan secara umum. Pada titik ini, kesalahan memahami hubungan keduanya menjadi sulit dihindari.
Kesalahan umum dalam memahami hubungan banjir dandeforestasiterkadang muncul karena dijelaskan melalui satu variabel atau satu kejadian tunggal. Bahaya banjir terbentuk dari interaksi antara curah hujan hingga perubahan penggunaan lahan yang terjadi bersamaan. Bila salah satu faktor tersebut dipisahkan dari konteksnya, kesimpulan yang diperoleh cenderung mempercepat proses yang sebenarnya terjadi.
Referensi:
“Hubungan hutan-banjir masih lemah–komentar terhadap ‘Bukti global bahwa deforestasi memperbesar risiko dan tingkat banjir di dunia berkembang’ oleh CJA Bradshaw, NS Sodi, KS-H. Peh dan BW Brook” Global Change Biology. Diakses pada Desember 2025
“Menangani Risiko Banjir: Bagaimana Deforestasi Berkaitan dengan Erosi dan Banjir?” Trapbag. Diakses pada Desember 2025
“Bagaimana Deforestasi Bisa Menyebabkan Banjir?” Emisi. Diakses pada Desember 2025
“Ahli UGM: Banjir Bandang Sumatra Parah Disebabkan oleh Kerusakan Hutan Daerah Hulu” UGM. Diakses pada Desember 2025
5 Bencana yang Disebabkan oleh Penebangan Hutan, Mulai dari Banjir hingga Kekurangan Pangan Bagaimana Penebangan Hutan Menyebabkan Ketidakseimbangan Energi di Bumi?
