JAKARTA, yang kaya akan warisan kolonial, memiliki sejumlah gereja tua yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi menjelang perayaan Natal. Ketiga gereja ini menawarkan perpaduan antara nilai sejarah panjang, arsitektur unik, serta suasana khusyuk saat musim liburan akhir tahun.
Berikut ulasan singkatnya sebagai rekomendasi wisata Natal di ibu kota.
1. Gereja Sion
Gereja Sion, atau dikenal juga sebagai Portugeesche Buitenkerk, merupakan gereja tertua di Indonesia yang masih berfungsi hingga kini. Didirikan sejak 1695, gereja ini dibangun oleh VOC dan awalnya melayani komunitas Portugis di Batavia. Fondasinya ditopang oleh 10.000 kayu dolken atau kayu gelam sehingga tetap kokoh meski usianya telah ratusan tahun.
Pilihan Editor: Desa-desa Adat Unik di Pulau Sumba
Arsitekturnya memadukan gaya Portugis dengan sentuhan Yunani, ditandai enam pilar dalam yang melambangkan enam malaikat pelindung. Di lantai dua, terdapat orgel tua pemberian putri Pendeta John Moritzmoor tahun 1860 yang masih dimainkan hingga sekarang, tapi hanya tiga orang Indonesia yang mampu memainkannya. Lonceng gereja, yang sudah ada sejak 1675, merupakan lonceng tertua ketiga di Indonesia.
Dulu, lahan ini adalah pemakaman Jasen Kerkhof, dan kini tersisa 11 makam, termasuk makam Gubernur Jenderal Belanda Hendrik Swardekron. Saat Natal, gereja ini sering menjadi tempat ibadah khidmat dengan nuansa sejarah yang mendalam. Lokasinya di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat, mudah dijangkau dan cocok untuk wisatawan yang ingin merasakan ketenangan di tengah kota.
2. Gereja Katedral
Gereja Katedral Jakarta, yang secara resmi bernama Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, menjadi ikon ibu kota sejak diresmikan pada 1901. Perjalanan sejarahnya panjang, dari gereja bambu sederhana pada 1808, melalui kebakaran besar 1826 dan runtuhnya atap 1890, hingga rekonstruksi neo-gotik oleh Pastor Antonius Dijkmans, SJ.
Pilihan Editor: Wisata Sejarah Tanjung Selor: Sebuah Kota di Tepi Sungai Kayan
Arsitekturnya yang megah bergaya neo-gotik Eropa membuatnya sering disebut sebagai “miniatur Vatikan”. Berdekatan dengan Masjid Istiqlal, gereja ini menjadi simbol toleransi antarumat beragama termasuk saling mendukung saat perayaan besar seperti Natal dan Idul Fitri. Saat musim Natal, interiornya dihiasi lilin dan ornamen khas, sementara misa malam menjadi momen khusyuk yang ramai.
Sebagai cagar budaya nasional, gereja ini juga memiliki museum yang menyimpan artefak sejarah Katolik di Indonesia. Lokasinya di Jalan Katedral, Jakarta Pusat, menjadikannya destinasi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara yang mencari pengalaman spiritual dan budaya.
3. Gereja Tugu
Di Jakarta Utara, tepatnya di Kampung Tugu, Cilincing, berdiri Gereja Tugu (GPIB Tugu) yang didirikan pada 1678 oleh oleh komunitas Mardijkers, yaitu bekas budak dari India, Malaka, dan Benggala. Mereka dibebaskan oleh VOC dan telah berasimilasi dengan budaya lokal sambil memeluk agama Kristen Protestan. Bangunan asli gereja sempat rusak parah ketika diserbu oleh pasukan Inggris di bawah pimpinan Kapten William Cole pada 1814. Gereja ini awalnya Katolik, kemudian menjadi Protestan setelah Belanda menguasai wilayah tersebut.
Nama “Tugu” berasal dari Kampung Tugu, tempat komunitas Betawi-Portugis bermukim. Tradisi uniknya mencakup musik keroncong tugu, tradisi rabo-rabo. Arsitektur gereja ini sederhana namun sarat makna karena mencerminkan perpaduan budaya antara Eropa dan lokal.
Sebagai cagar budaya, gereja ini mudah diakses dengan kendaraan umum dan menjadi destinasi wisata religi yang menarik, terutama bagi yang ingin merasakan nuansa Natal dengan sentuhan budaya lokal.
Ketiga gereja ini tidak hanya menyimpan cerita masa lalu kolonial, tetapi juga menjadi tempat refleksi dan perayaan Natal yang autentik. Bagi wisatawan, kunjungan ke sini akan memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar liburan sebuah perjalanan menelusuri akar sejarah Jakarta di tengah semangat natal.
PUTRI AZ ZAHRA SUHERMAN Pilihan Editor: Semalam di Tembilahan
