Ringkasan Berita:
- Kriminolog Haniva Hasna mengungkap dua kemungkinan motif pembunuhan anak Dewan Pakar PKS Cilegon, MAHM (9).
- Haniva mengatakan kasus tewasnya MAHM memang hanya berorientasi pada korban.
- Haniva menduga korban hanyalah korban sekunder alias bukan yang sebenarnya.
Kriminolog Haniva Hasna mengungkapkan dua kemungkinan motif pelaku pembunuhan anak Dewan Pakar PKS Cilegon bernama Maman Suherman, MAHM (9).
MAHM ditemukan terluka parah oleh Maman di kediaman mereka di Perumahan Bukit Baja Sejahtera (BBS), Kota Cilegon, Banten, Selasa (16/12/2025).
Nahas, korban dinyatakan tewas ketika dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
Dua pekan berlalu, polisi belum mengidentifikasi siapa pelaku penganiayaan terhadap MAHM hingga menyebabkan bocah malang tersebut tewas.
Terkait hal itu, Haniva mengatakan ada dua kemungkinan motif pelaku membunuh korban, mengingat tidak ada benda berharga yang hilang dari lokasi kejadian.
“Kalau dalam kriminologi, banyaknya luka dan tidak ada motif ekonomi, artinya dalam hal ini tidak ada barang yang hilang, itu memang mengarah pada dua kemungkinan besar,” kata dia, dikutip dari YouTube KompasTV, Senin (29/12/2025).
Haniva melanjutkan, kemungkinan pertama adalah adanya emosi yang besar pada pelaku.
Ia menduga pelaku menyimpan dendam pada anggota keluarga MAHM.
“Kemungkinan pertama adalah emosional besar, seperti dendam atau kemarahan personal. Entah kepada anggota keluarga yang mana, apakah orang tua atau yang mana,” jelasnya.
Kedua, imbuh Haniva. kejahatan pelaku memang berfokus pada korban sebab tidak ada benda berharga yang hilang.
Ia menuturkan, bisa saja penganiayaan terhadap korban dilakukan untuk mengarah pada korban sebenarnya.
Menurut Haniva, MAHM adalah korban sekunder yang ditargetkan pelaku untuk menargetkan orang terdekat, seperti orang tua korban.
“Kedua, tindakan kekerasan ini memang fokus pada korban, bukan pada harta. Artinya, bahwa menyakiti seseorang dengan melukai seperti itu, itu sebagai korban simbolik untuk mengarah kepada korban yang sesungguhnya.”
“Bisa jadi anak ini adalah korban sekunder, yang sebetulnya disasar adalah untuk menyakiti orang tua,” tutur Haniva.
Meski demikian, Haniva menilai kejahatan terhadap MAHM ini belum otomatis tersusun rapi alias direncanakan.
Ia mengungkapkan, ada kemungkinan pelaku menyakiti MAHM secara impulsif.
Impulsif itu, kata Haniva, bisa saja dipicu luka lama pelaku.
“Tapi, ini belum otomatis kejahatan ini tersusun rapi. Biasanya kekerasan ekstrem ini bisa terjadi secara impulsif.”
“Tapi, impulsifnya itu membawa luka lama atau kondisi-kondisi konflik lama yang tidak terselesaikan tau mendalam,” ujar Haniva.
Karena itu, Haniva menilai kasus pembunuhan ini memang hanya berorientasi pada korban, alih-alih harta benda.
“Jadi yang saya lihat ini adalah kejahatan yang berorientasi pada orban, yaitu victim oriented crime bukan objek, karena tidak ada barang yang hilang dari kejadian ini,” pungkas dia.
Keluarga Ikut Diperiksa
Hingga Sabtu (27/12/2025), polisi telah memeriksa 18 saksi terkait kasus tewasnya MAHM.
Kasat Reskrim Polres Cilegon, AKP Yoga Utama, mengungkapkan ke-18 saksi tersebut juga ada yang merupakan keluarga korban, termasuk ayah MAHM, Maman Suherman.
“Untuk perkembangan sekarang adanya penambahan saksi yang kita periksa. Total saksi yang kita periksa ada 18 orang, baik dari pihak keluarga dan non keluarga,” jelas Yoga, Sabtu (27/2/2025), dikutip dari TribunBanten.com.
“Sejauh ini untuk pemeriksaan kami melakukan perluasan, baik siapapun yang terlibat di keluarga, kenalan keluarga korban, baik yang tinggal di rumah tersebut kita juga lakukan pemeriksaan,” imbuhnya.
Terpisah, Kapolda Banten, Irjen Hengki, tak banyak bicara mengenai perkembangan kasus tewasnya MAHM.
Ia hanya mengatakan saat ini kasus masih dalam tahap penyelidikan.
Hengki juga menyebut penyelidikan dipimpin langsung oleh Dirkrimum Polda Banten.
“Saya tidak akan sampaikan perkembangan di sini, intinya masih dalam tahap penyelidikan.”
“Teknis penyelidikan tidak kami sampaikan di sini ya,” katanya, Jumat (26/12/2025), masih dari TribunBanten.com.
“Penyelidikan diketuai langsung oleh Pak Dirkrimum Polda Banten. Masih dalam penyelidikan, pemeriksaan saksi-saksi dan sebagainya, kita sudah mendatangkan Labfor,” imbuhnya.
Korban Derita 22 Luka
Sebelumnya, Kasi Humas Polres Cilegon, AKP Sigit Darmawan, mengungkapkan MAHM tewas akibat luka senjata tajam dan benda tumpul.
Sigit mengatakan ada total 22 luka di tubuh MAHM.
Puluhan luka itu terdiri dari 19 luka tusuk dan tiga luka memar.
Luka itu ditemukan setelah dilakukan pemeriksaan di rumah sakit.
“Total ada 22 luka, terdiri dari 19 luka tusukan atau kekerasan benda tajam dan tiga luka memar dari kekerasan benda tumpul,” jelas Sigit, Kamis (18/12/2025), dilansir Kompas.com.
Akibat banyaknya luka tersebut, MAHM mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan tewas.
Dua hari sejak terjadinya pembunuhan, polisi sampai saat ini belum menemukan alat yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban.
“Untuk benda-benda tersebut belum ada, itu masih dicari, belum ditemukan,” katanya.
(/Pravitri Retno W, TribunBanten.com/Ahmad Haris, Kompas.com/Rasyid Ridho)
